PARTAI GOLKAR DAN DILEMANYA

PARTAI GOLKAR DAN DILEMANYA
Oleh:Arizka Warganegara
(Dosen FISIP Universitas Lampung)

Oh…Jawa Timur, Calon Partai Golkar pun kalah begitulah komentar salah satu rekan di Gresik Pasca Cagub Golkar divonis KPUD tidak masuk dalam putaran kedua beberapa waktu yang lalu. Dan kekalahan calon gubernur dari Partai Golkar seolah terus berlanjut dimulai dari Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Sumatera Utara , Jawa Tengah, NTB, Bali dan terakhir Jawa Timur, lebih lanjut kekalahan beberapa kandidat Gubernur dari Partai Golkar ini-pun disinyalir sebuah kegagalan Partai Golkar dalam ‘memasarkan’ calon-calon Gubernurnya.

Ada apa dengan Partai Golkar hari ini? Mungkin itu sebuah pertanyaan yang layak diajukan kepada para punggawa, pendukung dan simpatisan Partai Golkar, lebih lanjut, mungkin ada baiknya sebagai orang luar Partai Golkar, kami mencoba untuk memberikan sebuah diagnosis akademik yang tentunya sangat terbatas mengenai beberapa faktor penyebab kekalahan calon-calon gubernur Partai Golkar dibeberapa provinsi tersebut.

Dalam pandangan kami terdapat 3 (tiga) hal mendasar yang berkontribusi terhadap kekalahan Partai ini dalam beberapa ajang pemilihan gubernur, ketiga hal tersebut adalah, Pertama kurang konsistennya Partai Golkar dalam memunculkan logika konvensi internal (penjaringan-red), model penjaringan based on survey tidak dijalankan dengan serius, terdapat kecenderungan persoalan popularitas dan elektabilitas calon dinapikkan begitu saja ketika dibenturkan dengan kekuatan modal dan intervensi kekuasaan internal.

Gejala ini sebenarnya sudah mulai terlihat pada saat konvensi Capres Partai Golkar tahun 2004, Almarhum Cak Nur merasa di ‘kadali’ dengan beberapa punggawa partai ini untuk turut serta secara ikhlas dalam konvensi namun pada akhirnya dikalahkan dengan persoalan ketiadaan modal, diistilahkan oleh Cak Nur sebagai Gizi Politik.

Dan kemudian apa yang disinyalir oleh Akbar Tandjung dalam bukunya “The Golkar Way” mengenai kekuatan politik saudagar dan modal pedagang yang telah sedikit menggangu stabilitas logika fairness dalam tubuh partai ini. Dalam kata pengantar buku The Golkar Way, Akbar Tandjung menyoroti bahwa pola kepemimpinan saudagar yang sangatlah berorientasi jangka pendek, mengedepankan spekulasi bisnis serta cenderung tidak menghargai proses melainkan hasil pola seperti ini akan mengabaikan penguatan kelembagaan. Dan apakah hal diatas menjadi point utama yang menjadi penyebab banyaknya kekalahan Partai Golkar di arena Pilgub?


Pasca Golkar kepemimpinan Akbar Tandjung memang terdapat perubahan mendasar dalam pola rekrutmen kepemimpinan politik di tubuh Partai Golkar, awalnya logika konvensi adalah sebuah terobosan mutakhir yang perlu untuk diteruskan akan tetapi ketika Golkar di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla, logika konvensi ditinggalkan dan digantikan dengan pola survei, walaupun kemudian terdapat kecurigaan apakah hasil survei yang dilakukan tersebut dipakai sebagai satu bahan penting dalam memutuskan calon yang diusung.

Dalam logika One Man One Vote di era Pemilihan Kepala Daerah secara langsung, faktor kekuatan uang bukanlah faktor yang paling utama, justru popularitas dan elektabilitas calon yang lahir secara ilmiah akan sangat berperan dibandingankan dengan triliunan rupiah sekalipun, walaupun disatu sisi faktor uang politik (political money) bukan politik uang (money politics) juga menjadi faktor yang membantu kemenangan calon.

Kedua, sikap bijak sebagai bagian dari kebijakan internal dengan mendahulukan kader untuk dijadikan pemimpin daerah adalah sesuatu hal yang patut kita diacungi jempol, akan tetapi ada kalanya jika si-kader tidak populer dan electable artinya dalam sisi popularitas dan elektabilitas tidak memungkinkan untuk dapat menang dalam arena pemilukada. Kenapa harus dipaksakan toh dalam politik praktis kemenangan jauh lebih dipentingkan dari pada proses itu sendiri.

Ada baiknya Partai Golkar di daerah-daerah mulai berani untuk membuka ruang bagi orang-orang non kader untuk dapat ikut serta dalam penjaringan internal, termasuk juga jika nantinya mencalonkan non kader karena dianggap lebih menjual secara politik dibandingkan dengan kader internal. Mulai realistis, terbuka dan beradaptasi dengan kondisi kekinian politik hari ini mungkin kalimat yang tepat itu dipakai oleh Partai Golkar.

Ketiga, selain tidak memperhatikan persoalan popularitas dan elektabilitas calon, persoalan lain Partai Golkar adalah ketiadaan tokoh kharismatik pasca pemilu 2004. Semasa orde baru dengan topangan tokoh-tokoh karismatik dari kalangan militer dan tokoh sipil yang berasal dari berbagai kalangan, cendekiawan, pamong, tokoh masyarakat-agama dan lainnya telah menjadikan Golkar sebagai the ruling party selama lebih dari 4 dekade, ditambah lagi pola patron kekuasaan yang kemudian semakin mengukuhkan Golkar dalam setiap arena politik Indonesia di era orde baru.

Tokoh yang dimunculkan Partai Golkar hari ini relatif adalah tokoh-tokoh lama yang sudah sangat sulit sekali di ‘jual’ secara politik, ada baiknya Partai Golkar hari ini mulai mengorbitkan kader-kader mudanya untuk menjadi tokoh-tokoh politik karismatik masa depan, tokoh-tokoh tua Partai Golkar hari ini sudah menurun nilai jual politiknya, jika dikalkulasi dari sisi umur maka spasial umur 30 sampai dengan 50 tahun adalah pemilih potensial yang luar biasa dan dapat ‘digarap’ oleh Partai Golkar, dan untuk itu ada baiknya tokoh-tokoh muda yang berumur dibawah 50 tahun mulai dijual untuk meyakinkan pemilih muda potensial tersebut dimasa depan menjatuhkan pilihannya pada Partai Golkar.

Mungkin lebih baik jika Partai Golkar belajar dari Partai Thai Rak Thai, walaupun Thaksin Sinawatra digulingkan dari kursi Perdana Menteri Thailand akibat skandal korupsi , tetapi pada sisi lain kecintaan rakyat Thailand terhadap dirinya dan Partai Thai Rak Thai tetaplah tinggi. Thaksin Sinawatra telah hilang dari peredaran Politik Thailand, Thai Rak Thai dilarang ikut Pemilihan Umum, namun sosok Thaksin dan Partai Thai Rak Thai tetaplah memenangkan hati rakyat Thailand. Bagaimana Partai Golkar? belajar dari kesalahan mungkin lebih baik dari pada berdiam diri…. Wawlahua’lam Bishawab

Komentar

Postingan Populer