AUSTRALIA DAN MINDERNYA BANGSA KITA

AUSTRALIA DAN MINDERNYA BANGSA KITA
(Sebuah Refleksi)
Oleh:
ARIZKA WARGANEGARA
(Staf Pengajar FISIP Unila)

Seorang anggota Komisi I DPR-RI, menganggap Pemerintah Australia telah mempermainkan kedaultan dan integritas NKRI seiring dengan diberikannya visa sementara selama 3 tahun dan bisa diperpanjang selama 2 tahun kepada 42 orang pencari suaka asal Papua. Akan tetapi dalam konteks lain Australia menyatakan dengan tegas tidak mendukung gerakan sepatis yang terjadi di Indonesia, hal ini yang kemudian dibenarkan dengan pernyataan pemerintahan John Howard dalam berbagai pertemuan bahwa pihak mereka tidak akan mencampuri urusan rumah tangga negara lain termasuk RI.

Apa yang menarik dari fenomena pemberian visa sementara itu seolah-olah dalam perspektif politik internasional pihak pemerintah Australia telah melakukan legitimasi secara informal terhadap gerakan separatis di Papua. Kita semua sudahlah sangat nahfum bahwa kepergian ke-42 orang papau tersebut demi mencari suaka politik atas ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah RI. Ini yang menjadi main point-nya di satu sisi pemerintah australia tidak menyatakan tidak akan mendukung gerakan separatis di Indonesia akan tetapi dengan memberikan visa sementara selama 3 tahun kepada ke-42 orang tersebut hal ini menandakan bahwa pemerintah australia bersikap ambivalen dan tidak konsisten.

Sejarah sebagai orang-orang buangan pada masa koloni Inggris kemudian juga mempunyai implikasi kenapa Negara ini menjadi begitu rasis dan mempunyai standar ganda dalam setiap foreign policy-nya. Jika persoalan visa itu mengacu para konvesi internasional mengenai Refugees kenapa pelarian-pelarian irak dan Afghanistan tidak meraka tampung. Benar kita harus proporsional memahami kasus ini tapi untuk hal yang sifatnya kedaulatan kita tentunya tidak perlu banyak berkompromi.

Dalam pandangan Saya terdapat 3 (tiga) alasan yang membuat Australia menjadi sangat angkuh di kawasan ini. Pertama, rasa superioritas sebagai ras Anglo Saxonis
1. Dominasi ekonomi dan politik
2. Dekat dengan negara-negara Barat (Reprentasi Informal Barat di Kawasan Asia)


Nasionlisme dan Mindernya Bangsa

Halaman pertama Koran media Indonesia tanggal 7 april 2006 membahas mengenai kerugian-kerugian yang akan Indonesia terima jikalau terjadi konflik yang berkepanjangan dengan pihak Australia. Sebelumnya juga bagaimana kita menyaksikan metro tv dalam editorial malamnya pada tanggal 6 april 2006 mengupas hal yang sama mengenai akan adanya sweeping yang dilakukan warga medan terhadap warga negara harian weekend Australian telah menghina presiden SBY yang mereka cintai melalui karikatur yang agak senonoh tersebut..

Apa yang menarik dari fenomen tersebut, begitu nasionalisnya media Australia sehingga apa yang dilakukan oleh rakyat merdeka lewat karikatur John Howard dan Downer dan kemudian mereka balas dengan karikatur SBY yang sangat senonoh tersebut. Saya mempunyai pandangan ini fenomena yang kontradiksi satu pihak media Australia sangat nasionalis sementara media kita yang diwakili oleh polah metro tv dan media Indonesia sangatlah tidak nasionalis.

Seorang anak kecil pun sangat paham jika ada temannya yang dimarahi ibunya kemudian kabur dari rumah dan bersembunyi di kamar sang anak kecil tersebut adalah sebuah kesalahan. Dan apa yang dilakukan oleh Austrlia adalah sebuah contoh konkrit ilustrasi di atas. Austrlai telah melanggar hak Indonesia terhadap warga negara-nya dengan memberikan visa kepada 42 warga papua tersebut hal ini juga membuktikan bahwa Australia secara informal telah mengakui terjadi pelanggaran HAM di Papua Barat dan itu akan sangat melegitimasi pihak bintang kejora untuk terus melakukan usaha-usaha memisahkan diri dari NKRI. Bahkan Profesor Harold Crouch, indonesianis yang mengajar di Australian National University mengamini pendapat tersebut.

Kemanakah rasa nasionalisme kita? Kenapa harus takut memutuskan hubungan diplomatik dengan Australia, sebagai bangsa yang besar kita tidak perlu takut dan minder dengan Negara tetangga kita tersebut. Dahulu rakyat bangsa ini pernah sangat bangga menyandang status WNI ketika sedang berada di luar negeri, sebagai contoh saja pengalaman teman Saya yang pernah menjadi local staf di KBRI Kuwait semasa penyerangan Irak atas Kuwait. Pada masa itu KBRI adalah salah satu dari sedikit kantor kedutaan yang paling aman dan sangat disegani untuk dilucuti oleh tentara Irak sehingga banyak dari warga negara asing berlindung di dalam KBRI kuwait tersebut ini adalah salah satu bukti bahwa dahulu bangsa ini sangat disegani.

Hal ini kemudian menjadi kontradiksi selama reformasi ini berlangsung, pengalaman pribadi saya misalkan ketika berkunjung ke Bangkok, ada seorang pejabat Pemda Sumatera Barat yang sedang melakukan studi banding untuk melakukan kerjasama pariwisata dengan negara tersebut, ketika sampai dipintu masuk imigrasi thailand sang pejabat mencoba menukarkan uang rupiah ke dalam bentuk mata uang Baht akan tetapi kemudian petugas money changer tersebut menyatakan sorry we do not receive rupiah, orang thailand tersebut bicara we just receive Singapore Dolar or Malaysian Ringgit. Ini adalah salah satu bentuk penghinaan yang sering dialami oleh WNI di luar negeri, hal ini yang kemudian sebagai bentuk representasi internal bangsa ini yang lemah sehingga akan dengan mudah negara lain meremehkan WNI.

Sekarang bagaimana dengan perlakuan Australia terhadap negara ini? Saya pikir kita harus tegas dalam menyatakan bentuk ketidaksukaan atas perlakuan Australia terhadap bangsa ini, bila perlu kita melakukan tindakan tegas dengan menata ulang kembali bentuk-bentuk kerjasama anatar RI-Australia. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh kompas misalnya menunjukkan tidak selamanya kita yang terancam rugi ketika hubungan diplomatik tersebut jadi dilaksannakan, sebagai contoh mau lewat mana barang-barang impor ke Australia kalau bukan melewati wilayah laut Indonesia. Menurut data dari Gabungan pengusaha makanan dan minuman menyatakan bahwa jika kita melakukan boikot terhadap Neraca perdagangan Total impor 2,3 miliar dolar ekspor 2,7 miliar dolar dengan total surplus 400 juta US$ bagi pihak RI jadi kenapa takut untuk boikot produk Australia?

Belajar dari Malaysia terutama sekali di bawah kepemimpinan Mahathir Mohammad yang begitu lantang menentang Australia. Dengan berani Mahathir Mohammad seperti yang dikutip oleh Harold Crouch (1991:15) menyatakan “Australia Feels that it is judge in this (Asia-Pacific) region and must determine the standard that must be adhered to by all. Meanwhile Australia’s rhetorical standards on equality and others human rights loe impaled on the terrible record o its historical and continuing lived social experience with the people of colour, in particular Aborigines. Should white Australian ‘speak out’ at all against injustice elsewhere? (Apa yang dipertanyakan mahathir dalam sebuah pernyataannya itu adalah bahwa Australia merasa dirinya sebagai pengadil dalam konteks asia pasifik dan menerapkan sebuah standar yang harus diikuti oleh semua. Disamping itupula menurut mahathir retorika Australia mengenai kesetaraan dan hak azasi mesti menjadi pertanyaan besar karena faktanya orang kulit putih Australia banyak melakukan pelanggaran terhadap orang-orang asli Australia yang dikenal sebagai suku aborigin)

Malaysia saja berani untuk lantang terhadap Australia kenapa Indonesia tidak? Sudah waktunya Indonesia kembali berani beesuara lantang layaknya zaman Soekarno yang berani mengatakan Amerika kita setrika, Inggris kita linggis, Ganyang Malaysia bahkan sampai dengan Go To Hell with your Aid dengan lembaga-lembaga pinjaman keuangan dunia. Kenapa sifat-sifat keminderan sebagai sebuah bangsa harus kita pelihara terus, kita ini bangsa yang besar dan akan menjadi bangsa yang lebih besar ketika para pemimpin berani mengajak warga negara-nya berdiri sejajar dengan bangsa lain.

Komentar

Postingan Populer