BUKA PUASA DAN DILEMA BUSH

BUKA PUASA DAN DILEMA BUSH
(Merajut Dialog Dunia Barat Dan Muslim)
Oleh:
ARIZKA WARGANEGARA
Staf Pengajar FISIP Unila


Ada yang menarik dengan pemberitaan Metro TV News tengah malam tanggal 18 oktober 2005 yang lalu. Hal yang sama juga ditampilkan oleh pihak Lampung Post lewat visualisasi gambar halaman depan tanggal 19 oktober 2005. Kedua media tersebut memberitakan mengenai acara berbuka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Bush. Buka puasa itu sendiri berlangsung pada tanggal 18 oktober 2005 waktu setempat, dalam acara tersebut Bush mengundang para pemimpin agama Islam Amerika Serikat dan para duta besar. Acara ini cukuplah mewah dan ekslusif karena untuk pertama kalinya tempat kediaman pribadi Bush di Gedung Putih dipergunakan untuk acara berbuka puasa bagi kaum muslim.

Dalam pandangan kalangan pemerhati dunia muslim, berbuka puasa bersama yang digagas oleh Bush pada tanggal 18 oktober 2005 adalah sebuah acara yang sangatlah fenomenal dan menakjubkan. Pada saat tidak adanya saling trust antara dunia barat dan muslim terutama setelah adanya peristiwa 11 september 2001 dan beberapa kali pemboman di berbagai tempat yang ditengarai oleh pihak barat bahwa pelakunya adalah fundamentalis dan ekstrimis Islam, Bush seakan tidak mau tertinggal oleh momentum bulan puasa yang suci dan sakral ini kemudian dengan cerdasnya mengadakan berbuka bersama dengan para pemimpin muslim Amerika Serikat yang diakhiri dengan berdialog.

Pada pidato singkatnya saat berbuka puasa tersebut Bush mengungkapkan beberapa hal yang menarik untuk dicermati oleh dunia muslim. Pertama, meminta kepada rakyat Amerika Serikat agar memupuk rasa toleransi terhadap perbedaan keyakinan. Kedua, Bush dengan sangat percaya diri mengetakan untuk pertama kalinya Pemerintah Amerika Serikat mengijinkan Al Qur’an dimasukkan ke dalam salah satu koleksi buku White House Library. Ketiga, mengajak kepada rakyat Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah pandangan yang jelas bagi memisahkan antara Islam dan Terorisme. Keempat, Bush melakukan pembelaan terhadap intervensi serta invasi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap banyak negara Islam seperti Irak dan Afghanistan, menurut Bush hal tersebut dilakukan bagi menciptakan tatanan dunia yang lebih baik. Sebagai contoh saat ini Afghanistan telah menjadi sebuah negara demokrasi baru setelah invasi tersebut.

Sebagai sebuah negara adidaya dunia, apa yang telah dilakukan Bush dengan acara berbuka puasa bersama tersebut akan membawa dampak positif terhadap dunia muslim. Saya yakin bahwa setelah acara tersebut, dunia barat akan memberikan respon yang lebih baik terhadap dunia muslim yang selama ini dikenal barat dengan stereotipe tidak berpendidikan, teroris, miskin dan terbelakang. Bahkan yang lebih ekstrim lagi kelompok Christian Voice (CV) di Inggris dengan tegas menolak jika Al Qur’an diperjual-belikan di tempat-tempat umum dan akan menuntut kepada siapa saja yang melakukan hal tersebut dengan pasal UU Rasial dan Kebencian Agama. Padahal di waktu yang hampir bersamaan Walikota London Sir. Ken Livingstone sudah memulai untuk mencoba berdialog dengan dunia muslim dengan memberikan kebebasan kepada umat Islam London melakukan ibadah dan mendirikan masjid.

Gap serta kesalah-pahaman inilah yang semestinya direntas oleh kedua belah pihak. Sebenarnya usaha-usaha untuk melakukan dialog antara dunia barat dan muslim ini telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah dengan pendirian Center for Civilization Dialogue di University of Malaya. Pusat kajian ini bertujuan untuk mencapai kesepahaman bersama antara dunia barat dan muslim. Dengan adanya dialog antara dunia barat dan muslim diharapkan gap dan kesalah-pahaman yang terjadi dapat diselesaikan.

Kita harus memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap mendiang Profesor Nurcholish Madjid serta Profesor Chandra Mudzafar sejawatnya dari Negeri Jiran sebagai generasi pertama yang mencoba merentas gap dan kesalah-pahaman antara dunia barat dan Muslim. Selanjutnya, kita harus terus mendukung sosok scholar muslim seperti Azyumardi Azra (UIN), Shamsul A.B (UKM), Suzaina Kadir (NUS) serta rekan-rekan yang lainnya bagi meneruskan dialog tersebut.

Kembali kepada apa yang telah dilakukan oleh Bush dengan acara buka puasa di White House tersebut. Sebagai Presiden sebuah negara yang sangat multi kultural, multi etnis dan multi agama seharusnya Bush dari dahulu mampu untuk mengadakan acara-acara yang menentramkan seperti apa yang dilakukannya pada tanggal 18 oktober 2005 yang lalu. Jika kita menilik kepada sejarah misalnya, kemenangan Bush dalam pemilu presiden tidak-lah terlepas dari dukungan umat Islam Amerika Serikat. Sehingga secara kultural, Bush seharusnya lebih memahami dunia muslim dengan lebih bijak dan mampu untuk menjadi katalisator bagi memperkecil gap dan kesalah-pahaman antara dunia barat dan muslim.

Mungkin saja Film Fahreinheit 9/11 karya Michael Moore bisa sedikit memberikan gambaran mengenai situasi dilematis yang dialami Bush pada saat ini. Dalam film Fahrenheit 9/11 tersebut kita akan mendapatkan beberapa hal yang menarik. Diantaranya adalah setelah peristiwa 11 september tersebut Bush secara langsung memerintahkan kepada semua petugas imigrasi untuk menutup “pintu keluar” dari Amerika Serikat bagi orang-orang Arab.

Hal ini dilakukan untuk memudahkan para dinas rahasia A.S untuk melakukan identifikasi terhadap jaringan Osama Bin Laden yang bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut. Akan tetapi Moore “sang sutradara film” menemukan bukti kuat bahwa Bush kemudian memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyiapkan satu buah pesawat khusus untuk membawa seluruh keluarga besar Laden agar dapat pulang ke Arab Saudi.
Setelah dipelajari lebih mendalam apa motif tindakan double standard Bush tersebut terhadap keluarga besar Laden dan kepada orang-orang Arab pada umumnya? Ternyata dalam film tersebut secara gamblang dijelaskan bahwa Bush melakukan hal tersebut demi menjaga hubungan bisnis antara kelurga besar Bush dan keluarga besar Laden yang telah berlangsung semenjak era Bush senior.

Pada konteks ini tidaklah heran kalau Bush menghadapi dilema dan selalu melakukan double standard dalam setiap kebijakannya terhadap dunia muslim. Pada satu sisi Bush menghadapi terjangan arus dunia barat yang memandang sinis terhadap dunia muslim akan tetapi pada sisi lain Bush sebagai pribadi banyak mempunyai rekan bisnis muslim yang menurutnya sangat comfortable dan tidak berwatak teroris. Secara pribadi Bush sebenarnya sadar bahwa dunia muslim tidaklah seperti apa yang dianggapkan oleh dunia barat.

Mudah-mudahan momentum buka puasa ala Bush kemarin bukan merupakan salah satu bentuk dilema Bush terhadap dunia muslim akan tetapi merupakan niatan baik Bush untuk mencoba memulai menjadikan Amerika Serikat sebagai ikon dialog antara dunia barat dan muslim. Pada akhirnya dialog serta kesepahaman antara dunia barat dan muslim akan lebih efektif jika Amerika Serikat dan dunia barat yang memulai. Sebagai sebuah negara yang adidaya seharusnya Amerika Serikat melalui Bush lebih proaktif terhadap usaha-usaha dialog tersebut demi menciptakan dunia yang lebih dialogis dan beradab.

Komentar

Postingan Populer