Cari Blog Ini

07/09/08

DEMOKRASI ALA NURCHOLISH MADJID

DEMOKRASI ALA NURCHOLISH MADJID
(Mengenang 1 Tahun Wafatnya Cak Nur)
Oleh:
Arizka Warganegara
Dosen FISIP Universitas Lampung, PEMINAT Pemikiran Cak Nur
e-mail address: rizkayu@yahoo.com

Kurang lebih satu tahun yang lalu bangsa ini kembali diliputi sebuah kesedihan atas berpulangnya salah satu putra terbaik bangsa yang telah banyak mewarnai kehidupan sosial dan politik perjalanan negeri. Nurcholish Madjid atau yang dikenal dengan sapaan Cak Nur telah meninggalkan kita semua, meninggalkan sebuah kenangan yang tidak pernah terlupakan terutama kepada orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung pernah ber”singgungan” dengan Cak Nur. Mulai dari mahasiswa beliau, teman-teman sepergerakan ataupun sebuah hubungan khusus pribadi antara Cak Nur dengan orang-orang yang beliau kader untuk meneruskan cita-cita dan perjuangan beliau.

Sebagai seorang yang sangat mengapresiasi pemikiran-pemikiran beliau bahkan dengan rekomendasi beliaulah kemudian saya berangkat untuk melanjutkan studi di Departemen Ilmu Politik Univeritas Kebangsaan Malaysia, saya melihat bahwa apa yang diperjuangkan Cak Nur merupakan sebuah lompatan pemikiran yang baru akan bisa diterima ke”saktian”-nya dalam kurun waktu 10 sampai dengan 20 tahun yang akan datang.

Sebagai contoh misalnya slogan mengenai Islam Yes dan Partai Islam No di era 1970-an. Pernyataan Cak Nur mengenai Islam Yes dan Partai Islam No dahulu sebenarnya berangkat dari sebuah analisis kritis Cak Nur yang melihat bahwa keberadaan partai Islam tidak memberikan nafas segar bagi perbaikan demokrasi di Indonesia pada masa itu, hal ini yang nampaknya mulai terbukti di era reformasi ini. Setelah lebih dari 30 tahun pun berdasarkan pada fakta di lapangan menunjukkan terutama buat umat Islam, menjamurnya partai Islam di era reformasi ternyata tidak berkorelasi positif terhadap perbaikan moral dan etika bangsa malahan sebaliknya ada indikasi bahwa politisi partai-partai Islam banyak terlibat penyelewengan jabatan dan sebagainya.

PERLUNYA DEMOKRASI YANG APLIKATIF

Dalam banyak pertemuan maupun seminar Cak Nur selalu berbicara mengenai pentinganya membuat sebuah skema bagi menarik konsep nilai demokrasi yang abstrak tersebut menjadi lebih aplikatif untuk mempermudah dijabarkan serta diterapkan dalam kehidupan sosial-politik Indonesia. Dalam konteks reformasi sekarang yang telah berjalan selama lebih dari 8 tahun misalkan, dalam pandangan Saya bangsa ini tidak mempunyai batasan yang jelas terhadap perjalanan demokrasi di era reformasi sehingga ada sebuah kesan bahwa Demokrasi di Indonesia disepadankan pengertiannya dengan Demo-Crazy ataupun Elektokrasi.

Riot dan kerusuhan rasial selalu terjadi, munculnya kelompok-kelompok politik yang berdasarkan kepada etnisitas dan sebagainya itu membuktikan tesis Saya bahwa ada yang tidak beres dalam transisi demokrasi di Indonesia. Belum lagi dalam realitas politik lokal misalkan pertarungan antar elit lokal di beberapa daerah menimbulkan banyak kesengsaraan bagi rakyat, kasus Tuban, Sumatera Utara dan mungkin juga Lampung menjadi contoh konkritnya kemandegan demokrasi lokal di era Reformasi.
Satu jenis obat mungkin bisa untuk menyembuhkan banyak penyakit atau sebaliknya banyak jenis obat hanya untuk menyembuhkan satu jenis penyakit, itulah logika yang selalu dipakai oleh dokter. Pasien menghadap kemudian mengeluhkan mengenai penyakitnya dengan sang dokter kemudian sang dokter melakukan diagnosis terhadap penyakit sang Pasien setelah itu dokter baru memberikan obat berdasarkan hasil diagnosanya.

Banyak persoalan di Indonesia setiap orang-pun sudah sangat paham dengan hal tersebut bahkan orang asingpun yang baru pertama kali ke Indonesia hal pertama yang harus mereka hadapi adalah masalah seperti pelayan publik yang jauh dari memuaskan bagi konsumen. Coba kita banyangkan harus berapa lama kita menunggu shuttle bus di bandara Soekarno Hatta agar dapat mengelilingi bandara dengan gratis? Sebagai bagian dari pelayanan bandara. Tapi bukan berarti persoalan bangsa ini tidak bisa diatasi dengan resep yang tepat bangsa ini akan bisa keluar dari krisis multidimensi ini.

Kebobrokan transisi politik ini yang menurut Cak Nur harus disikapi secara serius, almarhum pun kemudian menawarkan 7 Prinsip Demokrasi yang sebenarnya layak dipikirkan untuk ditarik menjadi sebuah konsep yang lebih aplikatif dan bisa dijadikan sebagai tegaknya demokratisasi di Indonesia, ketujuh prinsip tersebut sebagai berikut:

Pertama, Prinsip Kesadaran Kemajemukan. Apa yang ingin digambarkan dari prinsip yang pertama ini adalah bahwa Cak Nur melihat kemajemukan adalah seseatu yang given artinya seseuatu yang memang merupakan kodrat kemanusiaan. Perbedaan Ras, Agama dan Pendapat merupakan sesuatu yang alamiah, justru dengan kemajemukan itu manusia bisa saling mengisi dan menghargai. Sebuah fallacy (sesat pikir) jika manusia dalam pandangan Cak Nur menganggap Kemajemukan adalah satu hal yang patut dipertentangkan. Dalam konteks politik kesadaran akan kemajemukan juga merupakan satu hal penting untuk membina demokrasi yang permanen, banyangkan saja jika logika kemajemukan tidak ada maka tidak ada yang mananya political bargaining, konsesi politik dan sebagianya itu yang membuat politik penuh dengan dinamika.

Kedua, Prinsip Cara Haruslah Sejalan Dengan Tujuan. Dalam demokrasi yang baik Cak Nur juga menawarkan ide bahwa nilai-nilai demokrasi yang baik itu haruslah didasari dengan cara atau jalan yang baik untuk mencapainya. Jika cara yang digunakan untuk mencapai nilai demokrasi tersebut dicapai dengan jalan yang tidak baik maka nilai demokrasi yang terbangun juga akan menjadi tidak baik. Sebagai contoh adalah prilaku politik uang dalam setiap kompetisi politik, hal ini yang dilihat Cak Nur sebagai sebuah cara yang salah untuk memenangkan kompetisi politik. Dalam politik kita memerlukan uang akan tetapi yang kita perlukan adalah uang politik untuk mendukung aktivitas politik bukannya politik uang.

Ketiga, Prinsip Pemenuhan Kehidupan Ekonomi. Demokrasi politik mesti “dibarengi” dengan Demokrasi Ekonomi itulah logika ideal dari demokrasi yang sesungguhnya. Artinya bahwa pemenuhan kehidupan pokok seperti sandang, pangan dan papan harus menjadi dimensi yang terpenuhi terlebih dahulu sebelum merangkak pada membicarakan bangunan sistem demokrasi. Politik kontemporer kita misalkan dapat dijadikan contoh bagaimana kemandeg-an demokrasi tercipta akibat persoalan-persoalan domestik bangsa seperti kelaparan dan kemiskinan.



Keempat, Prinsip Kebebasan Nurani. Menurut Cak Nur prinsip ini ingin meneguhkan egalitarianisme dan kesantunan politik, pada intinya bahwa demokrasi menolak masyarakat yang terkotak-kota dan saling mencurigai satu dengan yang lainnya. Sehingga untuk meredam hal tersebut perlunya kebebasan nurani tidak terinterupsi

Kelima, Prinsip Musyawarah. Menurut Cak Nur prinsip-prinsip musyawarah sangat menentang sikap hidup absolutisme dan monolitisme hal ini yang merupakan main idea dari demokrasi sesungguhnya. Kita tentunya ingat bahwa demokrasi sangat menentang absolutisme dan monilitisme tadi. Musyawarah menurut Cak Nur dimungkinkan untuk digunakan bagi mengatasi absolutisme dan monolitisme tersebut tadi. Dengan menggunakan musyawarah bagi mengambil sebuah keputusan politik maka keputusan tersebut akan mempunyai sifat naluriah mengikat kepada semua orang yang telibat dalam pengambilan keputusan tersebu dari pada keputusan diambil didasarkan hanya kepada suara terbanyak saja.

Keenam, Prinsip Permufakatan Yang Adil. Cak Nur menilai bahwa permufakatan yang adil merupakan hasil akhir dari musyawarah yang sehat dan jujur jadi hal ini dengan tegas menolak jenis-jenis manipulasi, kolusi, korupsi dan buruk lainnya dalam praktek demokrasi temporer. Cak Nur juga menambahkan bahwa permufakatan harus diambil dengan cara-cara yang baik, jika permufakatan diambil dengan rekayasa tidak sehat maka keputusan yang diambil akan berimplikasi negatif sehingga proses kebaikan-kebaikan demokrasi akan termarjinalkan.

Ketujuh, Prinsip Perlunya Pendidikan Demokrasi. Dalam pandangan Cak Nur prinsip ini memegang peran yang sangat penting. Apalagi dalam konteks kebangsaan kita sekarang yang sedang aktif-aktifnya belajar demokrasi. Cak Nur juga menambahkan bahwa demokrasi juga merupakan proses trial and error proses coba salah dalam demokrasi merupakan hal yang sangat wajar apalagi jika suatu negara sedang berada dalam proses transisi demokrasi tersebut. Cak Nur juga menambahkan bahwa dalam konteks ini perlunya mengedapkan konsistensi dan kesabaran dalam menjalani demokratisasi.

Mewujudkan dimensi yang lebih aplikatif dari 7 (Tujuh) prinsip inilah yang terus menjadi pemikiran Cak Nur sehingga beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir, kita masih ingat bagaimana kurang lebih 8 tahun terakhir ini Cak Nur selalu memberikan kritik-kritik sosial yang konstruktif bagi perkembangan demokrasi di Negara ini, disela-sela kesehatan beliau yang agak terganggu Cak Nur terus saja memberikan pandangan-pandagan terbaiknya bagi kemajuan umat dan bangsa ini, sayang memang mungkin kita sekarang tidak bisa lagi menemukan profil seperti Cak Nur yang terus bisa konsisten dengan prinsip-prinsip hidupnya.

Wawllahua’llam
DEMOKRASI ALA NURCHOLISH MADJID
(Mengenang 1 Tahun Wafatnya Cak Nur)
Oleh:
Arizka Warganegara
Dosen FISIP Universitas Lampung, PEMINAT Pemikiran Cak Nur
e-mail address: rizkayu@yahoo.com

Kurang lebih satu tahun yang lalu bangsa ini kembali diliputi sebuah kesedihan atas berpulangnya salah satu putra terbaik bangsa yang telah banyak mewarnai kehidupan sosial dan politik perjalanan negeri. Nurcholish Madjid atau yang dikenal dengan sapaan Cak Nur telah meninggalkan kita semua, meninggalkan sebuah kenangan yang tidak pernah terlupakan terutama kepada orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung pernah ber”singgungan” dengan Cak Nur. Mulai dari mahasiswa beliau, teman-teman sepergerakan ataupun sebuah hubungan khusus pribadi antara Cak Nur dengan orang-orang yang beliau kader untuk meneruskan cita-cita dan perjuangan beliau.

Sebagai seorang yang sangat mengapresiasi pemikiran-pemikiran beliau bahkan dengan rekomendasi beliaulah kemudian saya berangkat untuk melanjutkan studi di Departemen Ilmu Politik Univeritas Kebangsaan Malaysia, saya melihat bahwa apa yang diperjuangkan Cak Nur merupakan sebuah lompatan pemikiran yang baru akan bisa diterima ke”saktian”-nya dalam kurun waktu 10 sampai dengan 20 tahun yang akan datang.

Sebagai contoh misalnya slogan mengenai Islam Yes dan Partai Islam No di era 1970-an. Pernyataan Cak Nur mengenai Islam Yes dan Partai Islam No dahulu sebenarnya berangkat dari sebuah analisis kritis Cak Nur yang melihat bahwa keberadaan partai Islam tidak memberikan nafas segar bagi perbaikan demokrasi di Indonesia pada masa itu, hal ini yang nampaknya mulai terbukti di era reformasi ini. Setelah lebih dari 30 tahun pun berdasarkan pada fakta di lapangan menunjukkan terutama buat umat Islam, menjamurnya partai Islam di era reformasi ternyata tidak berkorelasi positif terhadap perbaikan moral dan etika bangsa malahan sebaliknya ada indikasi bahwa politisi partai-partai Islam banyak terlibat penyelewengan jabatan dan sebagainya.

PERLUNYA DEMOKRASI YANG APLIKATIF

Dalam banyak pertemuan maupun seminar Cak Nur selalu berbicara mengenai pentinganya membuat sebuah skema bagi menarik konsep nilai demokrasi yang abstrak tersebut menjadi lebih aplikatif untuk mempermudah dijabarkan serta diterapkan dalam kehidupan sosial-politik Indonesia. Dalam konteks reformasi sekarang yang telah berjalan selama lebih dari 8 tahun misalkan, dalam pandangan Saya bangsa ini tidak mempunyai batasan yang jelas terhadap perjalanan demokrasi di era reformasi sehingga ada sebuah kesan bahwa Demokrasi di Indonesia disepadankan pengertiannya dengan Demo-Crazy ataupun Elektokrasi.

Riot dan kerusuhan rasial selalu terjadi, munculnya kelompok-kelompok politik yang berdasarkan kepada etnisitas dan sebagainya itu membuktikan tesis Saya bahwa ada yang tidak beres dalam transisi demokrasi di Indonesia. Belum lagi dalam realitas politik lokal misalkan pertarungan antar elit lokal di beberapa daerah menimbulkan banyak kesengsaraan bagi rakyat, kasus Tuban, Sumatera Utara dan mungkin juga Lampung menjadi contoh konkritnya kemandegan demokrasi lokal di era Reformasi.
Satu jenis obat mungkin bisa untuk menyembuhkan banyak penyakit atau sebaliknya banyak jenis obat hanya untuk menyembuhkan satu jenis penyakit, itulah logika yang selalu dipakai oleh dokter. Pasien menghadap kemudian mengeluhkan mengenai penyakitnya dengan sang dokter kemudian sang dokter melakukan diagnosis terhadap penyakit sang Pasien setelah itu dokter baru memberikan obat berdasarkan hasil diagnosanya.

Banyak persoalan di Indonesia setiap orang-pun sudah sangat paham dengan hal tersebut bahkan orang asingpun yang baru pertama kali ke Indonesia hal pertama yang harus mereka hadapi adalah masalah seperti pelayan publik yang jauh dari memuaskan bagi konsumen. Coba kita banyangkan harus berapa lama kita menunggu shuttle bus di bandara Soekarno Hatta agar dapat mengelilingi bandara dengan gratis? Sebagai bagian dari pelayanan bandara. Tapi bukan berarti persoalan bangsa ini tidak bisa diatasi dengan resep yang tepat bangsa ini akan bisa keluar dari krisis multidimensi ini.

Kebobrokan transisi politik ini yang menurut Cak Nur harus disikapi secara serius, almarhum pun kemudian menawarkan 7 Prinsip Demokrasi yang sebenarnya layak dipikirkan untuk ditarik menjadi sebuah konsep yang lebih aplikatif dan bisa dijadikan sebagai tegaknya demokratisasi di Indonesia, ketujuh prinsip tersebut sebagai berikut:

Pertama, Prinsip Kesadaran Kemajemukan. Apa yang ingin digambarkan dari prinsip yang pertama ini adalah bahwa Cak Nur melihat kemajemukan adalah seseatu yang given artinya seseuatu yang memang merupakan kodrat kemanusiaan. Perbedaan Ras, Agama dan Pendapat merupakan sesuatu yang alamiah, justru dengan kemajemukan itu manusia bisa saling mengisi dan menghargai. Sebuah fallacy (sesat pikir) jika manusia dalam pandangan Cak Nur menganggap Kemajemukan adalah satu hal yang patut dipertentangkan. Dalam konteks politik kesadaran akan kemajemukan juga merupakan satu hal penting untuk membina demokrasi yang permanen, banyangkan saja jika logika kemajemukan tidak ada maka tidak ada yang mananya political bargaining, konsesi politik dan sebagianya itu yang membuat politik penuh dengan dinamika.

Kedua, Prinsip Cara Haruslah Sejalan Dengan Tujuan. Dalam demokrasi yang baik Cak Nur juga menawarkan ide bahwa nilai-nilai demokrasi yang baik itu haruslah didasari dengan cara atau jalan yang baik untuk mencapainya. Jika cara yang digunakan untuk mencapai nilai demokrasi tersebut dicapai dengan jalan yang tidak baik maka nilai demokrasi yang terbangun juga akan menjadi tidak baik. Sebagai contoh adalah prilaku politik uang dalam setiap kompetisi politik, hal ini yang dilihat Cak Nur sebagai sebuah cara yang salah untuk memenangkan kompetisi politik. Dalam politik kita memerlukan uang akan tetapi yang kita perlukan adalah uang politik untuk mendukung aktivitas politik bukannya politik uang.

Ketiga, Prinsip Pemenuhan Kehidupan Ekonomi. Demokrasi politik mesti “dibarengi” dengan Demokrasi Ekonomi itulah logika ideal dari demokrasi yang sesungguhnya. Artinya bahwa pemenuhan kehidupan pokok seperti sandang, pangan dan papan harus menjadi dimensi yang terpenuhi terlebih dahulu sebelum merangkak pada membicarakan bangunan sistem demokrasi. Politik kontemporer kita misalkan dapat dijadikan contoh bagaimana kemandeg-an demokrasi tercipta akibat persoalan-persoalan domestik bangsa seperti kelaparan dan kemiskinan.



Keempat, Prinsip Kebebasan Nurani. Menurut Cak Nur prinsip ini ingin meneguhkan egalitarianisme dan kesantunan politik, pada intinya bahwa demokrasi menolak masyarakat yang terkotak-kota dan saling mencurigai satu dengan yang lainnya. Sehingga untuk meredam hal tersebut perlunya kebebasan nurani tidak terinterupsi

Kelima, Prinsip Musyawarah. Menurut Cak Nur prinsip-prinsip musyawarah sangat menentang sikap hidup absolutisme dan monolitisme hal ini yang merupakan main idea dari demokrasi sesungguhnya. Kita tentunya ingat bahwa demokrasi sangat menentang absolutisme dan monilitisme tadi. Musyawarah menurut Cak Nur dimungkinkan untuk digunakan bagi mengatasi absolutisme dan monolitisme tersebut tadi. Dengan menggunakan musyawarah bagi mengambil sebuah keputusan politik maka keputusan tersebut akan mempunyai sifat naluriah mengikat kepada semua orang yang telibat dalam pengambilan keputusan tersebu dari pada keputusan diambil didasarkan hanya kepada suara terbanyak saja.

Keenam, Prinsip Permufakatan Yang Adil. Cak Nur menilai bahwa permufakatan yang adil merupakan hasil akhir dari musyawarah yang sehat dan jujur jadi hal ini dengan tegas menolak jenis-jenis manipulasi, kolusi, korupsi dan buruk lainnya dalam praktek demokrasi temporer. Cak Nur juga menambahkan bahwa permufakatan harus diambil dengan cara-cara yang baik, jika permufakatan diambil dengan rekayasa tidak sehat maka keputusan yang diambil akan berimplikasi negatif sehingga proses kebaikan-kebaikan demokrasi akan termarjinalkan.

Ketujuh, Prinsip Perlunya Pendidikan Demokrasi. Dalam pandangan Cak Nur prinsip ini memegang peran yang sangat penting. Apalagi dalam konteks kebangsaan kita sekarang yang sedang aktif-aktifnya belajar demokrasi. Cak Nur juga menambahkan bahwa demokrasi juga merupakan proses trial and error proses coba salah dalam demokrasi merupakan hal yang sangat wajar apalagi jika suatu negara sedang berada dalam proses transisi demokrasi tersebut. Cak Nur juga menambahkan bahwa dalam konteks ini perlunya mengedapkan konsistensi dan kesabaran dalam menjalani demokratisasi.

Mewujudkan dimensi yang lebih aplikatif dari 7 (Tujuh) prinsip inilah yang terus menjadi pemikiran Cak Nur sehingga beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir, kita masih ingat bagaimana kurang lebih 8 tahun terakhir ini Cak Nur selalu memberikan kritik-kritik sosial yang konstruktif bagi perkembangan demokrasi di Negara ini, disela-sela kesehatan beliau yang agak terganggu Cak Nur terus saja memberikan pandangan-pandagan terbaiknya bagi kemajuan umat dan bangsa ini, sayang memang mungkin kita sekarang tidak bisa lagi menemukan profil seperti Cak Nur yang terus bisa konsisten dengan prinsip-prinsip hidupnya.

Wawllahua’llam

Tidak ada komentar: