Demokratisasi:Pilkada Makan Dana Besar

Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved.
Rabu, 30 April 2008

Demokratisasi:Pilkada Makan Dana Besar
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pilkada langsung menghabiskan biaya besar. Pragmatisme politik pun kental mengabaikan nilai demokrasi.

Kondisi ini memunculkan wacana agar kepala daerah sebaiknya sentralistik dipilih pemerintah pusat.

Demikian pandangan yang mengemuka dalam Seminar Politik bertajuk Pilkada Langsung; Perwujudan Demokrasi dan Good Local Governance di Pondok Rimbawan, Bandar Lampung, kemarin (29-4). Seminar yang dimoderatori Redaktur Lampung Post Hesma Eryani ini digelar Gabungan Aliansi Mahasiswa (GAM) yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tulangbawang dan Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (Ismahi) Dewan Daerah Lampung.

Hadir sebagai pembicara antara lain Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbang Pol) Lampung Mundjidi Asmarantaka mewakili Sekprov Lampung, Kepala Biro Operasi Polda Lampung Kombes Pol. Gatot Sunaryo mewakili Kapolda, anggota KPU Lampung Suwondo mewakili Ketua KPU Lampung, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti, akademisi Arizka Warganegara, dan Ketua KNPI Lampung Rycko Menoza.

Ketua HMI Cabang Bandar Lampung Yuli Effendi menilai kepala daerah tidak harus dipilih langsung karena hanya mendorong politik uang. "Gubernur dipilih langsung saja oleh pemerintah pusat," usulnya.

Dalam jawabannya, Ray Rangkuti dan Rycko Menoza mengatakan bisa saja mekanisme tersebut dilaksanakan. "Bisa saja terjadi, tapi kita harus lihat lagi positif negatifnya dibanding dengan secara langsung," ujar Rycko yang juga ketua Pemuda Pancasila ini.

Di lain pihak, Arizka mengungkapkan demokrasi yang dijalankan Indonesia tidak bisa langsung dirasakan dampak positifnya dalam waktu singkat. "Ini proses trial and error. Amerika saja butuh waktu puluhan tahun untuk bisa merasakan demokrasi," kata dia.

Apalagi, lanjut dosen FISIP Unila itu, kondisi ekonomi dan pendidikan di Indonesia masih belum mapan. "Demokrasi kita masih formalitas, belum substansial. Ditandai banyak masyarakat pemilih yang masih emosional," lanjut Arizka. n */U-1

Komentar

Postingan Populer