PEREMPUAN DAN KOMODITAS POLITIK

PEREMPUAN DAN KOMODITAS POLITIK
(Merespon Kontroversi Julia Perez dan Dewi Persik)

Oleh:
ARIZKA WARGANEGARA
(Dosen FISIP Universitas Lampung)

...”hitamlah hitam burung merpati kalaupun hitam menawan hati...hitamlah-hitam si gula jawa walaulah hitam manis rasanya...buahlah manggis buah rambutan walaulah hitam jadi rebutan...jalan-jalan ke kota paris banyak rumah berbaris-baris, biar mati diujung keris asalkan dapat adik yang manis”...

Beberapa pantun dalam lagu melayu diatas telah memberikan sebuah penafsiran yang jelas mengenai bagaimana leluhur kita menempatkan perempuan pada posisi yang penting bagi kaum lelaki dan tentu saja bermartabat. Penafsiran bahwa lelaki sangat mungkin bermitra dalam konteks dan dimensi apapun dengan perempuan adalah sebuah pesan jelas yang hendak disampaikan dalam lirik lagu tersebut. Pantun dalam lagu Melayu diatas membuktikan betapa agungnya seorang perempuan di mata leluhur kita, jauh sebelum gerakan feminis di Eropa dan Amerika Serikat meneriakkan dan melakukan hal ini di era 1990an.

Bertolak belakang dengan hal tersebut, beberapa hari ini terdapat dua hal yang menghebohkan dan tentu saja menggemparkan, kasus yang menimpa Julia Perez dan Dewi Persik, kasus ini menjadi menarik tidak hanya buat kalangan selebritis dan politisi saja akan tetapi juga pesan tersebut sampai pada semua level masyarakat. Dan betapapun berita-berita sumir tersebut sangatlah mendeskriditkan posisi perempuan Indonesia, sehingga harus dikatakan hari ini posisi perempuan Indonesia berada pada titik terendah, dalam dimensi yang lebih luas bertolak belakang dengan cita-cita R.A Kartini.

Artinya bahwa kedua peristiwa tersebut baik kasus Album Kamasutra Julia Perez atau kasus Goyang Gergaji ala Dewi Persik telah menjadikan kedua berita tersebut masuk dalam kategori hot news, menguburkan berita heboh politik dan ekonomi seputaran konflik Gus Dur versus Cak Imin serta keinginan Pemerintah untuk menaikkan kembali harga BBM.

Fenomena pertama, jelaslah kasus Album Kamasutra telah membukakan persepsi orang awam bahwa sebegitu bebaskah pergaulan anak-anak muda sekarang atau memang zaman telah berubah, dunia berlari begitu cepat dan kita baru mencoba mengejarnya sekarang sehingga seolah-olah kita seperti menjadi sosok orang kampung yang marjinal yang tidak mengerti apa-apa mengenai term pergaulan bebas tersebut. Sehingga menganggap apa yang dilakukan seorang JP adalah hal yang diluar sebuah kewajaran.

Fenomena kedua yang tidak kalah serunya adalah Goyangan Gergaji ala Dewi Persik, menjadi menarik karena isu ini sudah masuk dalam kategori isu yang ter-intervensi politik dimulai dengan pencekalan Dewi Persik untuk manggung di Tangerang oleh Sang Walikota, sesaat setelah Tangerang, Depok dan Bekasi-pun melakukan hal yang sama dan akan menyusul pencekalan-pencekalan lainnya.

Bagi saya pendekatan feminisme menarik untuk digunakan terutama sekali untuk menilai fenomena Album Kamasutra Julia Perez dan Goyangan Gergaji ala Dewi Persik serta perempuan sebagai sebuah komoditas politik. Menjadi menarik untuk diberi komentar, karena objek sentral dari kedua fenomena tersebut adalah perempuan dan bagaimana perempuan dalam konteks Album Kamasutra Julia Perez dan Goyangan Gergaji ala Dewi Persik tersebut disebut sebagai objek seksual dari laki-laki.

Secara teoritik, terdapat beberapa konsep mendasar Feminisme (Saliha Hassan:2000) Pertama, A way of looking at the world which women occupy from the perspective of women. Kedua, Its central focus is the concept of patriarchy – a system of male authority which oppresses women through its social, political and economic institutions. Ketiga, An ideology committed to women’s emancipation from ‘patriarchy’.

Feminisme adalah sebuah cara pandang pada dunia yang merujuk pada perspektif perempuan, fokus dari feminisme menentang konsep patriaki dimana lelaki selalu diutamakan dibandingkan dengan perempuan dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi. Feminisme juga terkadang dianggap sebagai idelogi perjuangan kaum perempuan untuk ‘merubuhkan’ patriaki tersebut.

Kecenderungan feminis hari ini terbagi dalam duaa mainstream besar dalam melihat kasus-kasus perempuan, ada yang bersikap konservatif akan tetapi pada bagian lain adapula yang bersikap sangat ekstrim sebagai contoh misalkan, dalam melihat poligami, pandangan perempuan sendiri terhadap poligami cenderung terbagi.

Pertama, adalah kelompok perempuan yang sudah berpendidikan ala barat dan mempunyai cakrawala pemikiran yang luas artinya berpendidikan secara formal mempunyai kecenderungan menolak poligami.

Kedua, di lain pihak adalah perempuan-perempuan yang masih mempunyai pemikiran tradisional serta menafsirkan ayat-ayat suci secara obsolote dan dokmatis akan mempunyai kecenderungan untuk menerima poligami. Dalam melihat kasus JP dan DP, setidaknya ada beberapa hal yang mesti di respon terhadap kedua fenomena tersebut.

Pada bagian lain, kejadian yang menimpa JP dan DP merupakan sebuah ‘hantaman’ keras bagi kalangan feminis. Momentum kasus JP dan DP besar kemungkinannya merupakan starting point bagi semakin menguatkan indikasi semakin melemahnya posisi perempuan dalam setiap event politik termasuk didalamnya dalam arena pilkada.

Secara umum perempuan mempunyai kontribusi yang vital bagi perkembangan Politik serta mengawal transisi politik di tanah air, selama sepuluh tahun reformasi peran perempuan dalam mengisi dinamika politik transisi di tanah air sangatlah besar.

Diawali dengan keinginan perempuan untuk memenuhi kuota 30 persen di parlemen dan hal ini yang kemudian menjalar dalam bidang politik lainnya termasuk yang terakhir adalah kuota 30 persen untuk setiap pengisian keanggotaan Komisi Pemilihan Umum ataupun lembaga ‘Super Body’ yang lainnya negara ini.

Akan tetapi menjadi miris ketika menilik beberapa fakta hari ini, bagi saya, posisi perempuan hari ini dalam ranah politik hanyalah sebagai pelengkap, dalam artian hampir dalam setiap event politik perempuan hanya dijadikan lumbung suara bagi para kontenstan yang mayoritas lelaki. Inilah sebuah kenyataan politik yang memerlukan kepemimpinan kuat perempuan untuk keluar dari pola-pola tradisional ini...semoga.

Komentar

Postingan Populer