RAMASAMY DAN TSUNAMI POLITIK MALAYSIA

RAMASAMY DAN TSUNAMI POLITIK MALAYSIA
Oleh:
Arizka Warganegara
(Dosen Unila)

Political Tsunami!!, itulah headline news dalam salah satu harian berbahasa inggris terbesar di Malaysia sesaat setelah hasil pemilu Malaysia yang mengejutkan bagi kalangan Barisan Nasional (Koalisi Pemerintah).

Pada awalnya hampir tidak ada yang menarik ketika membicarakan Malaysia dari sudut pandang politik, politik di negeri jiran ini tidak sedinamis politik Indonesia pasca reformasi 1998 hanya berbeda kelas sedikit pergolakannya jika dibandingkan dengan politik Indonesia di era Orde Baru. Tidak ada kemerdekan berbicara, kemerdekaan Pers bahkan kemerdekaan mengolok-olok pemerintah ala Indonesia pun tidak dipunyai oleh rakyat negeri jiran ini, dan jika hal tersebut dilakukan oleh mereka maka Internal Security Act (UU Subversif) siap menghadang dan memasukkan mereka dalam penjara.

Akan tetapi setelah mmbaca Buras Pak Bambang Edisi Selasa 11 Januari 2008 berjudul Dagelan Mengubah Malaysia dan Tajuk Lampost pada tanggal 13 maret 2008, ketidak-menarikan politik Malaysia berubah menjadi menarik, apalagi Pak Bambang kemudian menyinggung soal kemenangan P.Ramasamy terhadap Menteri Besar (Gubernur) Negara Bagiah Pulau Penang, Tan Sri Koh Tsu Koon, menjadi menarik karena buat saya P.Ramasamy merupakan sosok yang sangat saya kenal sebagai Dosen mata kuliah Ekonomi Politik dan Politik Internasional.

Sebelum diberhentikan dari jabatannya sebagai Profesor Ilmu Politik di Universiti Kebangsaan Malaysia medio 2005. Peran Ramasamy dalam membesarkan departemen ilmu politik UKM begitu besar, bersama dengan Prof. Harold Crouch dan Assoc.Prof. Saliha Hassan mereka bahu-membahu membanguan depertemen tersebut.

Prof. Rama begitulah kami biasa memanggilnya, seorang yang bersahaja pada siapa saja apalagi dengan mahasiswanya, seorang yang ramah namun penuh dengan pendirian adalah sosok dosen yang selalu membuka bilik pribadinya untuk anak-anak didiknya, mulai dari mahasiswa S-1 sampai dengan S-3 untuk berdiskusi panjang dengan beliau, dimulai dari kajian-kajian politik terbaru sampai dengan pesoalan yang sifatnya sangat pribadi, meminjam uang sekalipun untuk membayar biaya spp kuliah akan beliau berikan jika alasan itu sangat logis.

Sebagai sesosok seorang dosen, Prof. Rama merupakan sebuah pribadi yang menarik, sebuah contoh ideal seorang dosen, cerdas secara intelektual dan stabil secara emosional, selalu terbuka kepada mahasiswanya, meminta maaf jika datang tidak on time atau jika ada temu janji dan tidak bisa menepati waktu yang telah disepakati. Sikap adiluhur sesosok dosen yang sangat jarang kita temui di republik ini.

Dikalangan akademik Malaysia dan Internasional beliau juga mempunyai peran yang tidak dapat dianggap remeh. Peneliti senior di ISEAS Singapura, Profesor Tamu di University of Kassel, Jerman bahkan beliau sering sekali diminta untuk menjadi pembicara dalam forum-forum internasional yang membicarakan hak-hak buruh di Malayasia dan dunia. Oleh karena ketenaran Prof.Rama dalam bidang ekonomi politik buruh, hal ini yang kemudian membuat Organisasi Buruh Internasional (ILO) menunjuk beliau sebagai salah satu penasihat organisasi PBB tersebut.

Pada bagian lain, aktivitasnya sebagai ‘orang dekat’ GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang kemudian membuat Pemerintah Malaysia gerah, Prof. Rama dituding banyak mencapuri urusan luar negeri Indonesia, salah satu buktinya adalah Kepergian Prof. Rama ke Helsinki pada saat gencatan senjata antara Pihak RI dan Pihak GAM, yang hal tersebut kemudian menjadi kambing hitam pemerintah Malaysia kala itu.

Padahal menurutnya, kepergian ke Helsinki pada saat itu hanya untuk menemui salah satu sahabatnya yang kebetulan juga pentolan Gerakan Aceh Merdeka. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan pembenar Pemerintah Malaysia untuk tidak melanjutkan kontrak Prof. Rama sebagai dosen Universiti Kebangsaan Malaysia.

Kemenangan P. Ramasamy terhadap Tan Sri Koh Tsu Koon (Menteri Besar= Gubernur) Pulau Penang sebenarnya diluar dugaan, maklum selama ini dalam tradisi politik di Malaysia, Penang adalah basis pemilih Barisan Nasional, dan tradisi di pulau ini selalu keturunan Ras Cina yang menjadi Menteri Besar. Apalagi Prof. Rama adalah seorang yang berasal dari keturuan Tamil India.

Tapi bagi yang paham akan kemampuan intelektual dan jaringan buruh internasional yang dimiliki oleh Prof. Rama, maka hal ini adalah sebuah kewajaran politik, dengan kapasitas intelektual yang mapan, jaringan yang kuat maka tidaklah mengejutkan kemenangan Prof. Rama atas Tan Sri Koh Tsu Koon di Daerah Pemilihan Batu Kawan diperoleh dengan suara yang cukup meyakinkan unggul mayoritas 9,485 suara.

Jika ditilik dari isu, sebenarnya kemenangan Prof. Rama di Daerah Pemilihan Batu Kawan disebabkan oleh keinginan masyarakat Pulau Penang yang menginginkan sebuah perubahan, dimata sebagian masyarakat Pulau Penang Tan Sri Koh Tsu Koon kurang dapat melakukan perubahan secara signifikan hal ini dibuktikan dengan semakin menurunya ketertarikan investor untuk berinvestasi di Pulau Penang, kepergian beberapa perusahaan MNC besar menjadi bukti nyata hal tersebut.

Di level nasional BN kehilangan dua per tiga kursi parlemen (199 dari 219 kursi), menjadi tinggal 140 kursi. Juga kehilangan kontrol atas beberapa negara bagian, Kedah, Selangor, dan Perak yang sebelumnya hanya kelantan saja yang menjadi milik Barisan Oposisi.

Dengan munculnya tokoh-tokoh ayar dalam barisan oposisi seperti Nurul Izzah, Prof.Rama dan nanti kemungkinan besar disusul oleh Anwar Ibrahim karena dimungkinkan di Malaysia diadakan pemilu kecil susulan yang berfungsi menggantikan anggota parlimen yang mangkat atau mengundurkan diri. Maka kedepan politik di Malaysia akan lebih berdinamika dan bagi Barisan Nasional hal ini merupakan sebuah tsunami politik yang akan sekali lagi mengguncang posisi mereka sebagai elit berkuasa di negeri jiran, dan bagi Prof. Rama, kami hanya bisa mendoakan semoga karir sebagai politisi secemerlang karirmu sebagai akademisi, semoga...

Komentar

Postingan Populer