SELAMAT DATANG Mr. BUSH

SELAMAT DATANG Mr. BUSH
(Menyambut Kedatangan Sang Proxy Dunia)
Oleh:
ARIZKA WARGANEGARA
(Dosen FISIP Universitas Lampung)

Beberapa hari ini media-media massa di Indonesia baik itu media cetak sampai dengan media elektronik radio dan televisi memberitakan mengenai rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat George Bush Jr. Apapun motif kedatangan Presiden Bush, eksploitasikah? intervensikah? Ataupun mencoba meraih simpati setelah kekalahan partainya baik di House of Representative maupun Senat dalam pemilu reguler di Amerika Serikat. Banyak pejabat RI meng-klaim bahwa ini adalah sebuah kunjungan balasan yang dilakukan oleh Bush terhadap kunjungan kenegaraan SBY beberapa waktu lalu. Akan tetapi apakah benar seperti itu? Atau adakah semacam motif lain dibalik kedatangan Bush?

Dalam konteks yang lain, tentunya kita masih ingat kemenangan Bush dalam pemilu pertamanya menjadi Presiden adalah berkat kontribusi suara muslim di Amerika, kita juga tentunya masih ingat Pidato pertama Bush ketika kali pertama menjadi Presiden bahwa Amerika Serikat adalah bangsa yang berdiri diatas 3 (tiga) simbol agama besar dunia yaitu Gereja, Masjid dan Sinagok akan tetapi yang disesalkan kemudan hari banyak policy luar negeri Bush yang tidak menguntungkan buat muslim di negara tersebut dan dunia muslim pada umumnya.

Terkait dengan istilah Proxy, kata-kata ini menjadi begitu terkenal manakala pernyataan pedas yang dikatakan oleh Mantan PM Malaysia Dr. Mahathir Mohammad mengenai siapa sebenarnya penguasa dunia, Amerika Serikat-kah? Inggris-kah? Perancis-kah? Atau yang lainnya? Mahathir-pun kemudian mengeluarkan statement bahwa penguasa dunia sesungguhnya adalah Israel dan Amerika Serikat sebagai Proxy-nya. Bahasa Proxy digunakan Mahathir untuk menggambarkan kecerdikan Israel menguasai dunia yaitu dengan menggunakan “tangan” Amerika Serikat. Terkait dengan hal itu juga, pertanyaannya adalah apakah kedatangan Bush kali ini membawa misi lobi Yahudi? jika jawabannya adalah Ya, maka keinginan SBY untuk menanyakan kemerdekaan Palestina kepada Bush akan menjadi mimpi belaka.

Yang menarik juga untuk direspon dalam beberapa hari ini adalah pengamanan yang ekstra ketat, liburnya anak-anak sekolah di Bogor, Terhambatnya fasilitas publik termasuk penutupan beberapa jalan utama di kota Bogor sampai dengan peledakan restoran A&W di bilangan Jakarta adalah sebuah fenomena luar biasa bagi meyambut kedatangan Bush kali ini. Pengamanan VVIP termasuk dengan kedatangan agen Secret Service yang turut serta mengamankan kondisi kota Bogor dari asumsi serangan teroris sungguhlah sesuatu yang naif terutama sekali bagi Kepolisian Republik Indonesia, seolah-olah dibalik itu semua ada sebuah sindiran bahwa agen-agen keamanan Amerika Serikat tersebut tidak percaya dengan kapasitas Polri dan lebih mengetahui peta-peta terorisme dan keamanan di negara ini dibandingakan dengan Polri sekalipun.

Belum lagi dana keamanan yang konon kabarnya mencapai angka 6 Miliar Rupiah, Pertanyaan Saya adalah apakah layak seorang Presiden negara sahabat harus memakan dana yang luar biasa banyaknya hanya untuk motif-motif keamanan? sebegitu tidak Pede-kah pemimpin negara ini akan keamanan negaranya sendiri? jika yang datang adalah pemimpin dari negara besar dunia lainya misalkan saja, Kanselir Jerman ataupun Presiden Perancis, apakah Pemerintah RI juga akan mengelurakan dana yang sedemikian besarnya hanya untuk menjaga keamanannya? Saya dengan berani mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi, paling-paling hanya satu pleton paspanpres yang akan mengamankan kedua pemimpin tersebut jika datang ke negara ini.

Bush dan Amerika merasa diri mereka insecure (tidak aman) karena perbuatan diri meraka sendiri, Bush menjadi musuh dunia karena tindakan politik luar negeri Amerika Serikat yang tidak bersahabat terutama bagi negara muslim dan negara dunia ketiga. Dana 6 Miliar Rupiah memang layak diperuntukkan kepada Bush sebagai akibat tindakannnya yang menghasilkan banyak musuh. Jika dana tersebut berasal dari kantong Bush atau Amerika Serikat we do not care!!! yang menjadi tidak layak ketika dana tersebut harus berasal dari APBN negara ini, Saya juga percaya bahwa berjuta-juta rakyat Indonesia akan merasa kecewa, bayangkan saja jika dana tersebut dipakai untuk beli kerupuk dan dibagi-bagikan kepada rakyat Indonesia tentunya dalam beberapa hari kedepan kita minimal dapat makan dengan lauk walaupun hanya kerupuk.

Bush Datang dan Bagaimana Sikap RI?

Merujuk pada teori unipolar dan bipolar dalam konteks kompetisi politik dunia, dapat dimengerti kenapa Amerika Serikat begitu dominan dalam politik dunia sekarang. Kehancuran Uni Sovyet sebagai kekuatan penyeimbang Amerika Serikat di era 1990-an menjadi momentum dominasi Amerika Serikat dalam arena politik global. Kita tadinya berharap negara-negara besar dunia yang mengamalkan politik jalan ketiga seperti Perancis, Jerman dan Inggris minimal mampu menjadi kekuatan pengontrol dari dominasi Amerika Serikat. Akan tetapi setelah kekalahan partai-partai yang berbasis ideologi demokrasi sosial di negara-negara besar tersebut isu kedamaian dunia atau world peace menjadi tema yang tidak terdengar lagi. Padahal pada tahun 1999 kita juga berharap konsesus Washington yang ditanda-tangani oleh lima negara besar dunia termasuk didalamnya Amerika Serikat akan mampu membuat perdamaian dunia lebih baik.

Dalam konteks politik global pendekatan yang paling populer yang lazim digunakan saat ini adalah pendekatan realisme. Menurut Profesor P.Ramasamy (2000) pendekatan realisme adalah sebuah pendekatan di mana mainstream kekuasaan serta konflik menjadi hal yang sangat penting. Hubungan antar bangsa selalunya dilewati oleh perebutan kekuasaan serta konflik antara negara-negara bangsa, adapun ciri-ciri realisme adalah Pertama, Negara-negara bangsa Kedua, Dunia “Anarki” Ketiga, Survivalisme Keempat, Keseimbangan Kekuatan dan Kelima, Kekuasaan

Realisme secara teori terbagi menjadi 3 (Tiga) bentuk, Pertama Realisme Sejarah, Kedua Realisme Struktur dan Ketiga Realisme Essential. Realisme Sejarah adalah bagaimana seorang pemimpin negara menguasai suasana yang stabil dengan menghalalkan segala cara bagi stabilitas negaranya terhadap hubungan dengan negara lainnya, paham ini didasarkan pada pendapat Machiavelli sementara itu Realisme Struktur mempunyai ciri mengejar kekuasaan dan melihat dunia sebagai tempat yang tidak stabil akan selalu terjadi konflik sedangkan pendekatan Realisme Essential menitikberatkan kepada konsep Multiliteralisme dan Uniliteralisme, hal pokok daripada multiliteralisme ialah bahawa konflik dapat diselesaikan dengan konsesus. Dalam percaturan politik dunia global secara teoritis pada masa ini hubungan antar negara lebih merujuk pada teori-teori Realisme Essential hal ini terlihat dengan begitu dominannya Amerika Serikat dalam skema Unilateralisme tersebut.

Bagaimana seharusnya sikap SBY terhadap kedatangan Bush kali ini? Merujuk pada wacana diatas dan juga SBY-pun harus merespon berbagai unjuk rasa yang dilakukan terhadap penolakan kedatangan Bush yang dilakukan berbagai kalangan mulai dari akademisi, partai politik sampai sopir angkot yang trayeknya terpaksa harus ditutup. Hal lain yang mestinya juga dilihat untuk menjadi pertimbangan SBY adalah posisi politik Bush di dalam negeri yang kian “keropos.” Kekalahan Partai Republik di DPR dan Senat Amerika Serikat pun hendaknya menjadi sebuah pertimbangan besar secara politis buat SBY untuk lebih berani menekan Presiden Bush.

Dalam kompetisi politik domestik, Bush di mata rakyat Amerika sudahlah tidak populer, hal ini terlihat dalam polling terakhir yang diberitakan oleh VOA, sebanyak 52% responden rakyat Amerika Serikat tidak akan memilih kandidat Presiden dari Partai Republik sementara itu Senator Hillary Clinton calon dari Partai Demokrat semakin populer di mata rakyat Amerika Serikat untuk menggantikan posisi Bush sebagai Presiden. Isu-isu penyerangan atas Irak dan Afghanistan yang dibungkus oleh Bush dan kroninya sebagai isu perang terhadap terorisme dan nasionalisme Amerika Serikat yang dahulunya dapat meng-cover popularitas Bush dimata Rakyat Amerika Serikat tidaklah efektif untuk mempertahankan popularitas Bush dan Partai Republik secara umum.

Secara politis kedatangan Bush kali ini juga tentunya akan dimanfaatkan olehnya bagi mendapat dukungan dari negara-negara muslim terutama Indonesia hal ini penting bagi mendapatkan legitimasi politik terhadap kebijakan-kebijakannya terutama perang di Irak dan Afghanistan. Dukungan ini juga akan dipergunakan oleh Bush untuk membuktikan kepada para politisi Partai Demokrat bahwa kebijakan-kebijakannya selama ini sudah benar dan layak untuk didukung. Kita tidak bermaksud mencuri kesempatan akan tetapi sekarang saatnya bagi SBY untuk lebih berani menekan Bush terutama sekali untuk kepentingan Republik ini. Jika selama ini kita yang memerlukan Amerika Serikat dan Bush, Saya menilai, merujuk pada berbagai kondisi yang ada, kali ini Amerika Serikat dan Bush-lah yang memerlukan Republik ini untuk memulihkan citranya di mata rakyat Amerika Serikat dan dunia.

Wawlahua’lam Bishawab

Komentar

Postingan Populer