TOMYAM POLITIK THAILAND JILID II


TOMYAM POLITIK THAILAND JILID II
Oleh
Arizka Warganegara

Tomyam Politik begitulah gambaran secara sederhana dinamika politik di negara ini, semua orang mengetahui apa itu Tomyam, sejenis masakan khas Thailand yang terdiri dari banyak rempah-rempah dan bisa dicampur dengan berbagai macam panganan seperti daging sapi, sea food, daging ayam, begitu banyak jenis rempah-rempah yang harus dijadikan bumbunya membuat makanan ini sukar untuk dibuat.

Beberapa tahun yang lalu Thaksin Sinawatra sebagai Perdana Menteri digulingkan secara inkonstitusional, dengan jalan kudeta militer tidak berdarah, yang kemudian jalan tersebutlah melanggenggkan PPP (People Party) menjadi pemenang dalam pemilu yang diselenggarakan pasca tumbangnya rezim Thaksin Sinawatra. Hal itulah yang pada akhirnya memilih Samak Sundaravej sebagai Perdana Menteri. Dan apa yang telah terurai diatas adalah bagian dari skenario Tomyam Politik Thailand Jilid I.

Sedangkan apa yang terjadi dengan Politik Thailand hari ini adalah kelanjutan dari skenario tersebut, Tomyam Politik Thailand Jilid II, kenapa? situasi politik tidak menentu Thailand hari ini harus diakui sebagian besar kontribusinya akibat elit-elit politik Thailand tidak mampu menyelesaikan secara tuntas persoalan politik internal mereka pasca tumbangnya Thaksin.

Selama ini Politik Thailand selalu dalam dilema ini sama seperti apa yang Thailand alami sekarang model politik yang tidak berpola karena banyak “rempah-rempah politik ala tomyam” itu tadi membuat teater drama politik di Negara ini susah juga untuk diprediksi.
Kita tentunya masih ingat manakala banyak aktivis pro demokrasi yang di-driving oleh para akademisi kampus melakukan unjuk rasa besar-besar beberapa bulan yang lalu yang kemudian membuat politik di Negara gajah putih itu berhenti sejenak. Kemudian Thaksin berhenti sejenak dari tumpuk kekuasaan sebagai Perdana Menteri walaupun partai Thai Rak Thai menang besar dalam pemilu sebelumnya.
Setelah beberapa lama kemudian Thaksin kembali menempati posisinya sebagai Perdana Menteri, tidak jelas apa konsesi yang dibangun oleh Thaksin kepada pihak oposisi pada saat itu sehingga Thaksin dapat dudukkembali sebagai Perdana Menteri. Walaupun kembali digulingkan oleh kudeta tidak berdarah Militer di bawah Jenderal Sonthi.
Mayoritas warga Bangkok awalnya mempunyai ekspektasi yang berlebihan, bahwa dengan dipaksa mundur (kudeta-red) atas Perdana Menteri Thaksin Sinawatra dan kemudian digantikan oleh Perdana Menteri Samak Sundaravej maka Thailand akan kembali menjadi salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang mempunyai kestabilan politik baik.
Akan tetapi ternyata tesis itu juga tidak kunjung benar, manakala beberapa hari ini banyak sekali demonstran yang dikoordinir oleh Aliansi untuk Demokrasi mengutip Harian Die Presse Austria beberapa hari lalu dalam website DEUTSCHE WELLE, Awalnya, unjuk rasa di Thailand terkesan damai, sebuah Aliansi untuk Demokrasi yang terdiri dari guru besar, bankir dan warga muda ibu kota bertemu dalam ajang santai di malam hari,berdiskusi hangat membincangkan kepenatan mereka terhadap demokrasi gaya barat sehingga mereka kemudian melakukan sebuah perlawanan nilai.

Pada bagian lain, stasiun TV Al Jazeera menayangkan wawancara khusus terhadap situasi politik di Thailand akhir-akhir ini. Dalam acara East 101, minggu 7 september 2008, seorang mantan menteri Thailand Jakrapob Penkair menyatakan bahwa pada dasarnya dia setuju dengan demokrasi akan tetapi jika memperjuangkan demokrasi harus dilakukan dengan pemogokan terhadap public uttilities seperti air dan listrik itu yang menjadi sangat tidak rasional.

Saat ini ada kesan bahwa sebagian besar masyarakat Thailand merindukan sebuah rezim yang otoriter di bawah Raja Bhumibol asalkan makmur, sebuah kejenuhan yang saya pikir wajar-wajar saja bagi masyarakat Thailand, apalagi selama ini Thailand menjalankan sebuah rezim demokratis ala barat jauh sebelum Indonesia ataupun Filipina melakukan hal tersebut, dan akan tetapi tidak juga mempunyai dampak positif terhadap kemakmuran rakyat mereka.

Politik di Thailand bagi para pemerhatinya merupakan sebuah drama kolosal yang unik kenapa? di negeri gajah ini, Kudeta dan Tomyam adalah bagian yang tidak pernah terlepaskan dari tradisi politik dan kultur masyarakat Thailand.
Membincangkan politik di Thailand maka ada dua hal yang menonjol, pertama adalah peran Raja Thailand (Bhumibol-red) sendiri, kedua adalah peran Militer dalam dinamika politiknya.
Untuk memahami bagaimana peran Militer dalam Politik Thailand, Saya akan sedikit menggambarkan perjalanan politik negara ini dari masa lampau sampai dengan politik Thailand Kontemporer.
Kajian John Fuston (2000) dalam buku Goverment And Politics In South East Asia yang diterbitkan oleh Institute of South East Asia Studies, Singapura layak dijadikan referensi untuk mendalami Politik Thailand. Dimulai dengan kerajaan Sukhotai yang bermula pada tahun 1250 yang kemudian dilanjutkan oleh kemaharajaan Ayudha pada tahun 1351. Medio 1767 sampai dengan 1855 adalah masa di mana kemaharajaan Thonburi atau Bangkok berkuasa.
Bangkok atau masyarakat Thailand juga sering menyebutnya sebagai Thonburi adalah sebuah bentuk kemaharajaan lanjutan setelah kemaharajaan Ayudha Runtuh. Berangkat dari sisi kultural itulah yang kemudian membuat peristilahan atau kata Bangkok diabadikan menjadi nama ibukota negara Thailand.
Momentum demokratisasi politik Thailand dimulai pada tahun 1932 ketika terjadi reformasi politik untuk menggulingkan rezim monarki absolut. Terdapat 2 (dua) tokoh dibalik reformasi politik tersebut yaitu Phibun Songkram dari pihak militer dan Dr. Pridi Phanomyong dari pihak sipil.
Momentum itu yang menjadikan Thailand kelak menjadi salah satu negara yang penuh dengan teaterikal politik paling panas di kawasan ini. Hampir tidak ada pergantian kekuasaan di Negara ini berjalan dengan tertib dan lancar, jika tidak kudeta maka penggulingan kekuasaan melalui aksi masa menjadi pilihan yang biasa untuk menjatuhkan pemimpin di negara ini.
Dan pada akhirnya, jika kemudian Samak Sundaravej turun dari kursi Perdana Menteri maka hal ini akan menambah daftar panjang perjalanan politik Thailand yang selalu diwarnai oleh ketidaktentuan supra struktur politik negara tersebut. Wallahua’lam Bishawab

Komentar

Postingan Populer