UNIPOLARISME, ISLAM POLITIK DAN AMERIKA PASCA BUSH

UNIPOLARISME, ISLAM POLITIK DAN AMERIKA PASCA BUSH
Oleh:
ARIZKA WARGANEGARA
(Dosen FISIP Universitas Lampung dan Universitas Muhammadiyah Lampung)

Terlepas dari krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat, politik di negara adidaya inipun sekarang sedang hangat-hangatnya, terakhir di negara bagian Tennessee, dengan saling hebat John Mc Cain dan Barack Obama saling mendebat visi mereka dalam bidang kebijakan luar negeri dan keamanan nasional. Pada bagian lain menjadi sangat penting menurut saya untuk mencoba memberikan catatan kritis terhadap dua tema penting Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Bush selama ini yaitu Unipolarisme dan Islam Politik.

Dalam konteks Bush dan Islam Politik, kita semua tentunya masih ingat akan kemenangan G.W Bush jr dalam pemilu pertamanya menjadi Presiden Amerika Serikat medio tahun 2000, pada saat itu, besar sekali kontribusi suara muslim di Amerika Serikat terhadap kemenangan sosok G.W Bush jr, kita juga tentunya masih ingat Pidato Politik pertama Bush sesaat setelah dilantik menjadi Presiden kala itu, bahwa Amerika Serikat adalah sebuah bangsa yang berdiri diatas 3 (tiga) simbol agama besar dunia yaitu Gereja, Masjid dan Sinagok (Yahudi-red).
Hal kedua yang menarik juga untuk diikuti terutama bagi pengamat dunia barat dan muslim adalah acara berbuka puasa bersama yang digagas Bush pada tanggal 18 Oktober tahun 2005. Sebuah acara yang sangatlah fenomenal, menakjubkan sekaligus menjadi penanda pulihnya hubungan muslim dan barat pasca peristiwa 9/11. Kemudian, dalam sebuah dialog singkatnya, Bush mengungkapkan beberapa hal yang penting dan hal tersebut menjadi menarik untuk dicermati oleh dunia muslim.
Pertama, meminta kepada rakyat Amerika Serikat agar memupuk rasa toleransi terhadap perbedaan keyakinan. Kedua, Bush dengan sangat percaya diri mengatakan untuk pertama kalinya Pemerintah Amerika Serikat mengizinkan Al qur’an dimasukkan ke dalam salah satu koleksi buku White House Library. Ketiga, mengajak kepada rakyat Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah pandangan yang jelas bagi memisahkan antara Islam dan terorisme. Keempat, Bush melakukan pembelaan terhadap intervensi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap banyak negara Islam seperti Irak dan Afghanistan, menurut Bush hal tersebut dilakukan bagi menciptakan tatanan dunia yang lebih baik. Sebagai contoh Bush menambahkan bahwa Afghanistan telah menjadi sebuah negara demokrasi baru setelah invasi Amerika Serikat ke negara tersebut.
Sebagai sebuah negara adidaya dunia, apa yang telah dilakukan Bush dengan acara berbuka puasa bersama tersebut akan membawa dampak positif terhadap dunia muslim, yang selama ini dikenal barat dengan stereotipe tidak berpendidikan, teroris, miskin dan terbelakang.

Bahkan yang lebih ekstrim, kelompok Christian Voice (CV) di Inggris dengan tegas menolak jika Al Qur’an diperjual-belikan di tempat-tempat umum dan akan menuntut kepada siapa saja yang melakukan hal tersebut dengan pasal UU Rasial dan Kebencian Agama. Padahal di waktu yang hampir bersamaan Walikota London Sir. Ken Livingstone sudah memulai untuk mencoba berdialog dengan dunia muslim dengan memberikan kebebasan kepada umat Islam London melakukan ibadah dan mendirikan masjid.

Gap serta kesalah-pahaman inilah yang semestinya diretas oleh kedua belah pihak. Sebenarnya usaha-usaha untuk melakukan dialog antara dunia barat dan muslim ini telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah dengan pendirian Center for Civilization Dialogue di University of Malaya, Kuala Lumpur. Pusat kajian ini bertujuan untuk mencapai kesepahaman bersama antara dunia barat dan muslim. Dengan adanya dialog antara dunia barat dan muslim diharapkan gap dan kesalah-pahaman yang terjadi dapat diselesaikan.

Dalam lingkup Asia Tenggara misalnya, Kita harus memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap mendiang Nurcholish Madjid serta sosok Chandra Mudzafar sejawatnya dari Negeri Jiran sebagai generasi pertama yang mencoba merentas gap dan kesalah-pahaman antara dunia barat dan Muslim. Selanjutnya, kita harus terus mendukung sosok scholar muslim seperti Azyumardi Azra (UIN Syarief HIdayatullah), Shamsul A.B (Universiti Kebangsaan Malaysia), Suzaina Kadir (National University of Singapore) serta rekan-rekan yang lainnya untuk dapat meneruskan dialog antar peradaban tersebut.

Masa Depan Unipolarisme

Dalam konteks politik global pendekatan yang paling populer yang lazim digunakan saat ini adalah pendekatan realisme. Menurut Ramasamy (2000) pendekatan realisme adalah sebuah pendekatan di mana mainstream kekuasaan serta konflik menjadi hal yang sangat penting.

Hubungan antar bangsa selalu bercerita mengenai perebutan kekuasaan serta konflik antara negara-negara bangsa, adapun ciri-ciri realisme adalah Pertama, Negara-negara bangsa Kedua, Dunia “Anarki” Ketiga, Survivalisme Keempat, Keseimbangan Kekuatan dan Kelima, Kekuasaan. Tema-tema inilah yang kemudian kerap kali menjadi icon hubungan antar bangsa di dunia pada awal abad 20 sampai sekarang.

Realisme secara teori terbagi menjadi 3 (Tiga) bentuk, Pertama Realisme Sejarah, Kedua Realisme Struktur dan Ketiga Realisme Essential. Realisme Sejarah adalah bagaimana seorang pemimpin negara menguasai suasana yang stabil dengan menghalalkan segala cara bagi stabilitas negaranya terhadap hubungan dengan negara lainnya, paham ini didasarkan pada pendapat Machiavelli. Kedua, Realisme Struktur mempunyai ciri mengejar kekuasaan dan melihat dunia sebagai tempat yang tidak stabil akan selalu terjadi konflik sedangkan pendekatan Ketiga, Realisme Essential menitikberatkan kepada konsep Multilateralisme dan Unilateralisme, hal pokok daripada multiliteralisme ialah bahawa konflik dapat diselesaikan dengan konsesus.

Secara teoritis pada masa ini hubungan antar negara lebih merujuk pada teori-teori Realisme Essential hal ini terlihat dengan begitu dominannya Amerika Serikat dalam skema Unilateralisme tersebut. Walaupun harus diakui selama ini Bush dan Amerika Serikat lebih mengutamakan kekuatan militer untuk menyelesaikan konflik dibandingkan dengan konsensus, sebagai contoh kasus yang melanda Irak dan Afganistan. Kehancuran Uni Sovyet sebagai kekuatan penyeimbang Amerika Serikat di era 1990-an menjadi momentum semakin dominannya Unipolarisme Amerika Serikat dalam arena politik global.

Kita tadinya berharap negara-negara besar dunia yang mengamalkan politik jalan ketiga seperti Perancis, Jerman dan Inggris minimal mampu menjadi kekuatan kontrol dari dominasi Amerika Serikat, selaras dengan kenyataan politik tersebut, kekalahan partai-partai yang berbasis ideologi demokrasi sosial di negara-negara Eropa tersebut pun kemudian menjadikan isu perdamaian dunia atau jalan damai dunia menjadi tema yang tidak terdengar lagi.

Awalnya kita juga sangar berharap, bahwa dengan adanya konsesus Washington tahun 1999 yang disepakati oleh lima negara besar dunia, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Italia dan Perancis akan mampu membuat perdamaian dunia jauh lebih baik atau minimal akan ada skenario lanjutan mengenai jalan damai dunia.

Kenyataan tersebut pada awalnya optimis akan terwujud, akan tetapi dengan kekalahan Calon Presiden Partai Demokrat (Albert Arnold Gore jr) pasca presiden Bill Clinton kala itu, menjadikan logika perdamaian dunia kembali terbentur dengan jurang yang terjal nan dalam.

Menjelang pemilihan presiden tahun ini, dalam polling terakhir yang diberitakan kantor berita Reuters, Obama Unggul atas Mc Cain dari Partai Republik, secara matematis polling ini menunjukkan bahwa Senator Obama calon dari Partai Demokrat semakin populer di mata rakyat Amerika Serikat.

Isu-isu penyerangan Irak dan Afghanistan yang dibungkus oleh Bush, Mc Cain dan kroninya sebagai isu perang terhadap terorisme dan nasionalisme Amerika Serikat yang pada awalnya dapat meng-cover popularitas Bush dan Mc Cain dimata Rakyat Amerika Serikat tidaklah efektif untuk mempertahankan popularitas Bush, Mc Cain dan Partai Republik secara umum.

Dan akhirnya setelah dua kali berdebat didepan publik secara langsung nampaknya jalan Obama menuju gedung putih tinggal menunggu waktu. Dan dari sudut pandang nagara muslim dan dunia ketiga kita berharap jika Obama kelak yang terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, maka dapat dipastikan romatisme perdamaian dunia muslim-barat serta perdamaian dunia dapat diuraikan kembali dengan lebih bijaksana, mudah-mudahan. Wawlahua’lam Bishawab

Komentar

ariapertama mengatakan…
Komentar yang agak menarik. Selain dari demokrasi dan liberalisme, budaya pop adalah eksport utama U.S. pada dunia. Setiap era dan perang tajaan U.S. dibelakangnya industri pop mengiringinya. Contoh II world war - Rock n Roll. Gulf War - Alternative Rock. Kita barangkali adalah konsumer politik.

- salam perkenalan.

Postingan Populer