DUNIA, REALISME DAN ILUSI BARACK OBAMA

Oleh:
Arizka Warganegara
(Dosen FISIP Universitas Lampung, Pernah Menjadi Tutor Transformsi Politik Dunia-Universiti Kebangsaan Malaysia)

Beberapa hari ini media-media massa di Indonesia baik itu media cetak, media elektronik radio dan televisi seolah berlomba memberitakan mengenai pelantikan Presiden baru Amerika Serikat Barrack Obama pada tanggal 20 Januari 2009, kentara sekali ada ekspektasi yang berlebihan terhadap sosok Barrack Obama dalam ranah media dan masyarakat Indonesia. Bagi saya pribadi Nothing Special buat seorang Barack Obama, medialah yang telah membuat Barack Obama manjadi sangat spesial pada hari itu.

Akan tetapi mungkin bagi sebagian besar rakyat Indonesia Barack Obama menjadi sangat spesial, maklumlah, Barack Obama adalah Presiden Afro-Amerika pertama A.S dan yang paling genuine tokoh ini pernah tinggal di Indonesia, sangat menyukai makanan khas Indonesia, pernah bersekolah di SDN I Menteng Jakarta. Harus diakui memang secara personal Barack Obama adalah Presiden A.S yang paling dekat dengan kultur Indonesia.

Pada bagian lain menarik untuk mencoba memeredikasi bagaimana sikap Barack Obama setelah dilantik terhadap dunia dan Indonesia, menurut saya, Change We Need slogan Barack Obama ketika mencalonkan diri sebagai Presiden A.S adalah sebuah slogan yang sangat puitis, kenapa puitis? Pertama, ekspektasi dunia yang berlebihan pada seorang Barrack Obama, bahwa seiring dengan pelantikannya menjadi Presiden A.S maka konstelasi politik dunia akan lebih mencair, itupun menurut saya menjadi tanda Tanya besar? Politik luar negeri A.S yang given dengan pola dunia-hegemonik unipolarisme pasca runtuhnya Uni Sovyet akan sangat sulit sekali buat Barrack Obama mengubah itu dengan begitu cepat, jangankan mengubah, ada niatan saja dari seorang Barrack Obama untuk mengubah pola dunia-hegemonik unipolarisme itu saja sudah merupakan lompatan besar, karena basis politik luar negeri A.S selalu berdasar pada logika kepentingan nasional (National Interest) yang harus mengakomodasi berbagai kepentingan kelompok termasuk didalamnya adalah lobi yahudi.

Kedua, A.S sebagai sebuah sistem ekonomi-politik, dan Barack Obama mewarisi persoalan ekonomi politik yang buruk pasca Bush, krisis finansial, hutang menumpuk akibat “meladeni” perang di Irak dan Afhganistan, pertumbuhan ekonomi yang stagnan, semakin banyaknya homeless dan mutlak hal-hal tersebutlah yang membuat dalam beberapa tahun kedepan Barrack Obama akan terfokus kepada persoalan internal A.S dan sedikit melupakan persoalan eksternal. Dan Barack Obama-pun harus realistis dalam konteks ini, Barack Obama akan selalu menghitung dan berhati-hati jika tidak berhasil mengubah keterpurukan ekonomi A.S hari ini maka mungkin cukup satu periode saja Barack Obama kita lihat sebagai Presiden A.S.


Proxy, Realisme dan Ilusi Obama

Dalam konteks kajian Politik Internasional, pendekatan yang paling populer yang lazim digunakan saat ini adalah pendekatan realisme. Pendekatan realisme adalah sebuah pendekatan di mana mainstream kekuasaan serta konflik menjadi hal yang sangat penting. Hubungan ienternasional selalu dilandasi oleh perebutan kekuasaan serta konflik antara negara-negara bangsa, secara teoritik ciri-ciri realisme adalah Pertama, Negara-negara bangsa Kedua, Dunia “Anarki” Ketiga, Survivalisme Keempat, Keseimbangan Kekuatan dan Kelima, Kekuasaan

Logika teoritik diatas itulah yang kemudian melahirkan persitilahan Proxy. Proxy adalah sebuah istilah yang dipakai dan diperkenalkan oleh Mahathir Mohammad. Istilah ini menjadi sangat terkenal manakala pernyataan pedas Mantan PM Malaysia. Mahathir Mohammad menyatakan mengenai siapa sebenarnya penguasa dunia, Amerika Serikat? Inggris? Perancis? Atau yang lainnya? Mahathir-pun kemudian mengeluarkan statement bahwa penguasa dunia sesungguhnya adalah Israel dan A.S sebagai Proxy-nya. Bahasa Proxy digunakan Mahathir untuk menggambarkan kecerdikan Israel menguasai dunia yaitu dengan menggunakan “tangan” Amerika Serikat.

Pada bagian lain memang sulit sekali bagi Capres di A.S untuk menjadi Presiden tanpa restu dari punggawa-punggawa yahudi dunia dan termasuk-pun seorang Barack Obama yang pidatonya di depan AIPAC (American-Israel Public Affairs Committee) mendapat aplaus luar biasa dari kalangan Yahudi di A.S, dan harus diakui itu yang sebenarnya menjadi salah satu entry point kemenangan Bararck Obama dalam pilpres 2008 kemarin. Termasuk juga ditengarai terdapat support dana yang besar dari kalangan Yahudi untuk kampanye Barack Obama melalui gergasi besar yang pemilik modalnya berasal dari kalangan Yahudi.

Adalah juga logika Military Industrial Complex yang selalu digunakan A.S dalam menjalankan model politik luar negerinya, dalam pemahaman Politik Internasional, Military Industrial Complex adalah sebuah konsep sinergi antara gergasi besar, industri militer dan kebijakan luar negeri, bahwa perang dapatlah menjadi sebuah industri, dengan adanya perang maka industry alat-alat militer A.S berkembang dan ini menghasilkan dolar serta pemasukan bagi A.S.

Gergasi besar dan industri alat-alat militer adalah dua sinergi yang tidak dapat dipisahkan, maka tidaklah mengherankan ketika A.S selalu mempunyai kepentingan nasional dengan dunia yang selalu berada dalam situasi perang dan anarki, sesuai dengan beberapa butir akademik dalam pendekatan realisme diatas tersebut.

Pada bagian akhir tulisan ini, janganlah terlalu berharap banyak dengan romantisme Barack Obama dan kedekatannya dengan Indonesia, mencintai Jakarta, makanan dll tersebut. Semua romantisme itu hal itu tidak ada pengaruhnya dalam kebijakan luar negeri A.S terhadap dunia (termasuk juga Indonesia) yang memahami bahwa logika National Interest diatas segalanya. Akhirnya A.S tetaplah A.S yang akan selalu berdiri tegak-nampak angkuh, hegemonik dan terus menjadi polisi dunia. Wawlahua’lam Bishawab

Komentar

Postingan Populer