IMLEK DAN REPOSISI KEBANGSAAN

(Hikmah dari Seorang Sahabat Tionghoa)
Oleh:
Arizka Warganegara
(Dosen FISIP Universitas Lampung )

Adalah seorang Wendy Kurniawan, seorang WNI keturunan (Tionghoa) asal Madiun yang telah banyak memberikan kesan kebangsaan terhadap diri saya. Tulisan ini mungkin menjadi bagian dari bagaimana “orang luar” seperti saya mencoba memaknai Perayaan Imlek yang jatuh tepat hari senin tanggal 26 Januari 2009 yang lalu, beruntung Indonesia pernah merasakan seorang Presiden yang mempunyai pemikiran visioner semacam Gus Dur, dengan kebijakannya-lah kemudian imlek menjadi hari raya nasional. Saudara-saudara kita suku Tionghoa mungkin dahulu tidak pernah bermimpi akhirnya eksistensi budaya mereka seperti pertunjukan barongsai yang sejatinya terkenal di masa lampau manjadi bagian dari budaya bangsa ini.

Hikmah Seorang Sahabat

Kembali lagi pada sosok Wendy Kurniawan yang sempat saya singgung diatas, buat saya Wendy lebih dari sekedar teman, sosok Wendy telah banyak mengajarkan kepada saya bagaimana memaknai kebangsaan secara utuh.

Sekilas mengenai seorang Wendy, berasal dari keluarga pengusaha pengrajin kayu di Madiun, kami berkenalan kemudian menjadi akrab ketika sama-sama kuliah S-2, Wendy yang hasil karya berupa mesin pengangkut barang yang luar biasa, dan pernah dipublikasikan oleh Kompas sebagai profil anak muda berprestasi mengambil bidang teknik mesin, karena kepintaran dan keuletan seorang Wendy, sang pembimbing memberikan kesempatan kepadanya untuk melanjutkan studi S-3.

Kebetulan saya dan Wendy tinggal sekamar ketika itu, banyak hal yang saya perhatikan menyentuh perasaan kebangsaan saya dari sosok Wendy. Pertama, Medio 2004 ketika Pemilu digelar, malam menjelang hari pencoblosan, kami mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Malaysia berdiskusi hangat sambil minum kopi dan di sebuah kedai, diskusi tersebut membincangkan banyak hal terutama mengenai Pemilu, siapa yang terbaik menjadi Presiden dan lain-lain, maklumlah karena besok harinya akan ada Pemilihan Umum 2004.

Semua beropini dengan pilihan masing-masing sampai suatu ketika seorang Wendy berkata “nanti ketika pilpres aku akan pilih SBY “ (yang kelak memang menjadi presiden RI), teman yang lain menjawab kenapa? Dengan logat jawa yang kenal kemudian Wendy Menjawab : “Simpel wae mas, disamping berdasar pada kemampuan, aku dan SBY itu sama-sama orang Jawa Timur, Suroboyo”

Saya-pun menjadi termenung sekaligus terharu dengan jawaban seorang Wendy, menurut saya Wendy telah masuk pada situasi etnonasionalisme yang kental, secara teoritik perasaan etnonasionalisme akan muncul ketika nasionalisme seseorang sudah utuh dan memasuki ranah evaluatif nasionalisme tersebut. Dan menurut saya, sosok Wendy sudah masuk dalam wilayah itu.

Hal kedua yang membuat saya juga tersentuh adalah, ketika pagi-pagi buta, terdengar dari kamar mandi sibuknya gemericik air, saya-pun terbangun, tidak biasanya teman-teman satu pangsapuri (apartemen sederhana-red) pagi-pagi buta sudah mandi. Dan ketika gemericik air berhenti saya melihat sosok Wendy keluar dari kamar mandi dengan ceria bernyanyi “mari-mari bangun kawan-kawan, kita kejar kereta menuju KBRI pergi mencoblos” sontak jiwa saya kembali terpana dibuatnya, begitu besar semangat nasionalisme seorang Wendy untuk mengikuti Pemilu, disaat teman-teman “asli” Indonesia masih terlelap tidur seorang Wendy telah bersiap-siap berangkat mencoblos.

Sepanjang perjalanan diatas komuter saya melamun, membayangkan dan menyimpulkan, ternyata rasa nasionalisme itu tidak selamanya “menempel” pada orang asli (indigenous people), setelah melalui proses pemaknaan kebangsaan maka terkadang rasa nasionalisme itu muncul dengan sendirinya terlepas apakah orang tersebut indigenous atau tidak, dan selama dua tahun saya mengenal sosok Wendy, dua kali saya melihat sosok Wendy menghadiri upacara bendera 17 agustus di KBRI yang sebenarnya menjadi menu “tidak wajib” mahasiswa Indonesia untuk menghadiri acara tersebut.

Sekarang “Mas” Wendy begitulah saya memangilnya, telah bekerja sebagai Applications Consultant di Singapura, berbekal ijazah Doktor teknik mesin saya rasa menjadi hal yang tidak sulit untuk dirinya mendapatkan Dolar Singapura dengan mudah, walaupun terkadang Wendy selalu curhat, “Gaji besar disini, tapi kita ibarat romusa bekerja pagi sampai malam, Saya rindu bekerja dan mengabdi di Indonesia” celotehnya kepada saya via sms.

Ada keinginan besar dari seorang Wendy untuk pulang dan bekerja di Indonesia, dahulu Wendy pernah bercerita kepada saya mengenai keinginan besarnya menjadi dosen di Indonesia dan menyumbangkan keahliannya dalam bidang CFD (Computational Fluid Dynamics) kepada negara dan bangsanya, tapi mungkin kesempatan itu belum ada.

Bagi kita yang merasa sebagai WNI “asli” mungkin cerita sederhana dari sosok Wendy bisa kita jadikan sebagai bahan renungan. Sebuah renungan kebangsaan mengenai pentingnya menumbuh-kembangkan kesadaran kebangsaan jauh diatas lintasan prasangka stereotipe kesukuan yang naif dan saling merugikan tersebut. Dan bukankah kemerdekaan bangsa ini didapat dengan kolaborasi perjuangan berbagai suku di Indonesia termasuk juga saudara-saudara kita suku Tionghoa. Wawlahua’lam Bishawab. arizka@unila.a.id

Komentar

Yahya Teguh mengatakan…
salam kenal, pak arizka...
saya dosen teknik mesin unila (kenalan lewat blog, gk papa kan?) tapi skg lg s2 di ui. insya Allah Agt besok balik k unila.
btw, saya setuju, saya juga punya banyak teman-teman keturunan tionghoa, tidak ada batasan ras untuk kepemilikan rasa nasionalisme.
www.yahyatp.wordpress.com
Andri Maila mengatakan…
Waduh bang saya jadi terharu membacanya. Saya juga punya teman kantor keturunan yang mungkin lebih Indonesia daripada orang Indonesia aslinya...

Postingan Populer