Cari Blog Ini

11/03/09

BLACKBERRY DAN HIPEREALITAS PEMILU

Oleh:
Arizka Warganegara
(Dosen FISIP Universitas Lampung)

Seantero Indonesia demam smart phone bermerk Blackberry. Blackberry atau BB istilah tren-nya menjadi aksesoris wajib bagi seseorang yang tidak ingin dikatakan ketinggalan jaman. Oleh karena tren itulah yang kemudian menjadikan setiap orang ingin memiliki barang yang menjadi tren semasa tersebut, maka kemudian tidaklah mengherankan Blackberry menjadi barang yang ingin dimiliki oleh setiap orang. Tren menjadi tema penting dalam kehidupan sosial bangsa ini termasuk juga dalam prilaku politik masyarakatnya.

Blackberry dan tren semasa, itulah yang kita kenal dengan hiperealitas. hiperealitas diartikan secara harfiah adalah sebuah realitas yang berlebihan, sebuah realitas yang dimaknai melampaui makna seseungguhnya dari makna real yang dimaksudkan. Sebagai sebuah konsep Hiperealitas adalah satu kajian teoritik dalam postmodernisme akan tetapi terkadang pula konsep ini dimaknai sebagai sebuah makna lanjutan dari realitas.

Pada setiap dekade, Politik Indonesia selalu diwarnai dengan hiperealitas, dulu ada seorang Soekarno, walaupun Indonesia belum merdeka kala itu Soekarno dengan lantang berani berkata Amerika kita seterika, Inggris kita linggis.

Pada bagian berikutnya, ada seorang Soeharto yang menganut paham politik simbolik yang luar biasa, sehingga dibalik kesejahteraan bangsa kala itu terselip sebuah kronisme yang luar biasa.
Bayangkan sesaat setelah krisis moneter tahun 1997, terselip kabar bahwa selama berpuluh-puluh tahun hanya ada sekitar 60-an pengusaha saja yang menjalankan roda ekonomi bangsa ini, sebuah hiperealitas, bayangkan saja 60-an orang pengusaha bertanggung-jawab terhadap kehidupan ekonomi lebih dari 200 juta WNI kala itu. Maka menjadi sangat wajar ketika taipan-taipan ekonomi Indonesia kala itu menjadi anak emas dari rezim Soeharto dan selalu di-back up dengan luar biasa.

Hiperealitas selanjutnya ada pada sosok B.J Habibie, dengan proyek mercusuar yang didukung oleh rezim Soeharto, Habibie seolah memaksakan perubahan model pembangunan berbasis pertanian kepada pembangunan berbasis teknologi tinggi.

Bahkan menjadi sangat kontroversial ketika sebuh pesawat buatan IPTN tersebut harus ditukar dengan beras Thailand, walaupun dari sudut harga ekonomi mungkin berimbang akan tetapi dari pemaknaan simbol hal ini merupakan sebuah hiperealitas yang luar biasa menjemukan.
Megawati-pun tidak lepas dari hiperealitas, Mega mencoba memaknai simbol-simbol Soekarnoisme dalam dirinya akan tetapi menurut saya hal itu tidak pernah berhasil. Sosok Presiden SBY pun tidak lepas dari Hiperealitas, terinspirasi skema negara-negara Eropa Utara menerapkan jaring pengaman sosial. SBY pun kemudian memberikan bantuan langsung tunai kepada masyarakat miskin. Model-model lumrah sebagai cara PDKT (pendekatan-red) yang dipakai oleh elit politik untuk menarik hati masyarakat bawah.

Mungkin satu-satunya Presiden di negara ini yang mencoba melihat Indonesia dari dimensi yang realistis adalah Gus Dur. Sosok Gus Dur-lah yang membuat pondasi demokratisasi di negara ini dapat berjalan dengan baik. Gus Dur juga yang mencoba menerapkan prinsip-prinsip pluralitas serta membuka kran sekatisme antara golongan pribumi dan non pribumi. Hari libur dan perayaan Imlek menjadi simbol pluralistas sekaligus realitas tersebut.

Blackberry dan Hiperealitas Politik

Prilaku politik bangsa ini terkadang berpola selalu mengikuti tren semasa, tren semasa itulah yang seringkali dipakai oleh sebagai besar pemilih di Indonesia untuk menentukan pilihan politiknya dalam setiap Pemilu di Indonesia.

Misalkan pada pemilu 1999, kenapa PDI-P yang memenangkan Pemilu? Tidak lain, karena partai inilah yang pada saat itu berhasil mencitrakan diri sebagai simbol perlawan rezim orde, sehingga suara-suara oposisi rezim orba secara terbuka memilih PDI-P sebagai parpol pilihan mereka.

Dan itu adalah sebuah gambaran tren semasa prilaku politik anak bangsa, layaknya Blackberry tersebut, PDI-P kala itu berhasil men-tren-kan diri sebagai Parpol alternatif dan simbolisasi dari ketertindasan rezim.

Dan mudah ditebak sebenarnya siapa yang akan memenangkan pemilu 2009 baik itu untuk posisi legislatif ataupun presiden. Parpol atau Capres tinggal belajar saja untuk mengambil inspirasi dari tren Blackberry tersebut, Pertama, belajar mengapa setelah lama BB di-rilist dan menjadi familiar dikalangan tertentu (pengusaha-red) baru kini menjadi booming di masyarakat? Kedua, belajar kenapa sebagian masyarakat sanggup berada paranoia termasuk juga memimpikan untuk memiliki Blackberry walaupun dalam keadaan ekonomi yang mepet dan krisis finansial hari ini.

Dalam masyarakat yang budaya politik-nya masih dominan parokial, maka tren semasa cenderung harus diciptakan oleh para politisi tersebut untuk dapat memeroleh insentif politik. Untuk itu sebagai pesan bagi para politisi, buatlah sebuah skema kampanye politik yang berbasis pada tren kebutuhan masyarakat bukan berdasarkan pada selera sebagai politisi.

Pada akhirnya kita berharap setelah lebih dari sepuluh tahun berproses dalam demokrasi pemahaman politik bangsa ini akan lebih baik sehingga pada pemilu 2009 nanti pemilih tidak lagi mendasarkan pilihan politiknya hanya berdasarkan tren semasa. Wawlahua’lam bishawab

1 komentar:

Andri Maila mengatakan...

abang dah pake blackberry juga yah bang