MEMIMPIKAN SOSOK PRESIDEN IDEAL

(Sebuah Komentar dan Harapan)
Oleh:
Arizka Warganegara
Department of Government, The University of Lampung, Indonesia

Beberapa hari ini seolah wacana republik ini terkuras untuk mencermati logika koalisi yang akan dibangun oleh partai-partai politik. Politik adalah seni serba mungkin, dan tidak ada persahabatan yang permanen dalam politik, kepentingan tentunya diatas segalanya.

Sehingga tidak mengherankan jika pasca Pemilu Legislatif, pola koalisi nampaknya hanya akan berlabuh pada dua kutub saja antara Kutub Cikeas vs Kutub Teuku Umar. Akan tetapi logika politik tadi belum hilang dan nampaknya juga pola itu berubah dengan cepat, beberapa hari ini misalkan banyak spekulasi kedua kutub tersebut akan mendapat pesaing baru yaitu kutub alternatif setelah Golkar resmi ‘bercerai’ dengan Demokrat.

Tapi hal ini juga tidak dapat dijadikan sebagai sebuah hasil akhir dari pola koalisi yang akan bertanding kelak, akan sangat mungkin jika keberagaman kutub tersebut kembali pada format awalnya, atau mungkin saja Pilpres akan melawan kotak kosong! Jika, kutub kedua dan kutub alternatif menyatakan diri WO dari Pencapresan?

Sosok Presiden Ideal

Jika kita lihat pola kepemimpinan politik masa sekarang maka terdapat dua hal yang agak unik terutama sekali pasca Uni Sovyet Runtuh, Pertama adalah mulai diakomodasinya kepemimpinan politik perempuan pada beberapa negara demokrasi. Contohnya seperti di Jerman dengan terpilihnya Kanselir Angela Merkel dari Partai CDU (Christian Democratic Union).

Kedua, mulai berkembangnya homogenitas kepemimpinan dan kekuatan politik global akibat dari pengaruh inter-dependensi dalam globalisasi. Implikasinya, saat ini hampir tidak mungkin keputusan-keputusan ekonomi-politik genting sebuah negara diputuskan hanya oleh negara tersebut saja dan akan sangat dipastikan saling melibatkan semua pihak. Sebagai contoh adalah forum-forum WTO, GTO, Selatan-Selatan dan ASEAN. Semua negara anggota selalu berada dalam satu forum untuk memutuskan kebijakan bersama yang akan mereka implementasikan.

Satu hal yang menjadi dilema besar akan dihadapi capres kedepan adalah bagaimana menyikapi Globalisasi. Banyak orang mengidentikkan Globalisasi dengan Pasar Bebas, pandangan seperti ini ada benarnya walaupun ‘agak’ kurang komprehensif. Dan bagi merespon keadaan politik global yang kian homogen tersebut maka terdapat minimal lima kriteria yang harus dimiliki oleh capres Indonesia masa depan tersebut:

Pertama, sosok Presiden ideal harus memiliki integritas moral yang kuat. Hal ini klise dan datanya sangat kualitatif akan tetapi sebenarnya apa yang dikatakan sebagai track record atau dalam bahasa indonesia kita kenal sebagai rekam jejak relevan juga untuk digunakan sebagai tolak ukur. Seberapa banyak Capres melakukan penyimpangan moral dan korupsi? sebenarnya dapat dijadikan ukuran kuantitatif. Dan lazimnya itu masyarakat pemilihlah yang akan memberikan penilaian dengan beragam opini dan akhirnya memberikan sikap dalam Piplres nanti. Oleh sebab itu sebenarnya kita harus mengapresiasi gerakan-gerakan penegakan moral yang tumbuh di masyarakat secara alami sebagai jembatan bagi memberikan penilaian terhadap sosok pemimpin yang lahir dari sistem politik negeri ini.

Kedua, semakin rumitnya persoalan politik global mengharuskan sosok Presiden masa depan memiliki kemampuan teknis kepemimpinan politik yang baik. Visi kepemimpinan politik yang kuat pada diri seorang Presiden adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama sekali bagi kepempimpinan politik di negara-negara berkembang. Visi kepemimpinan politik itulah yang kelak menjadi salah satu aset penting bagi membangkitkan semangat bertranformasi menjadi negara maju. Sosok seperti Mahmoud Ahmadinejad-Iran, Mahmohan Singh’s-India dan Tayib Erdogan-Turki adalah pemimpin politik negara berkembang yang mampu menyejajarkan diri dengan pemimpin politik negara-negara maju. Mahmoud Ahmadinejad-Iran, Mahmohan Singh’s-India dan Tayib Erdogan-Turki berhasil membawa prinsip kebangsaan mereka dalam ranah politik global, sehingga negara-negara tersebut mampu menjadi pemain kunci dalam percaturan politik global hari ini.

Ketiga, bagian lain yang juga menurut hemat saya penting adalah sosok Presiden mesti memiliki basis politik dan ekonomi yang mapan. Didukung di parlemen secara mapan dan mempunyai kemampuan finansial diatas rata-rata bagi mendukung kemapanan di Parlemen merupakan salah satu kunci keberhasilan menjadi pemimpin politik dalam sistem politik yang kompetitif.

Keempat, memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan cepat dan tepat. Kemampuan ini juga sangat diperlukan oleh seorang Presiden terutama dalam masa-masa yang genting dan memerlukan keputusan yang cepat dan tepat. Sosok Capres yang plin-plan, lambat dan wait and see dalam mengambil keputusan adalah profil yang kurang tepat bagi Indonesia lima tahun kedepan.

Kelima, mempunyai kemampuan tinggi dalam diplomasi dan negosiasi. Masih belum hilang dari ingatan kita manakala seorang Tayib Erdogan Perdana Menteri Turki melakukan high diplomacy saat pertemuan ekonomi dunia di Davos dengan meninggalkan ruang diskusi sesaat menyuarakan hasrat Rakyat Turki yang tidak suka dengan tindakan sewenang-wenang Israel terhadap Palestina. Sehingga tidak heran sesaat Erdogan mendarat di Turki, Rakyat Turki menyambutnya bagaikan seorang Pahlawan yang memenangkan perang. Erdogan telah berani dan lantang menyatakan keinginan rakyatnya dan sebagai pemimpin Erdodan telah melakukan tindakan yang benar dengan menyambungkan aspirasi rakyat Turki pada dunia. Hal ini secara tidak langsung telah meninggikan harkat dan martabat Turki sebagai sebuah bangsa.

Pada akhirnya kedepan kita perlu Presiden yang berkarakter, cerdas, kuat, tegas dan berani menyuarakan keinginan rakyatnya dan dengan tulus tentunya menjaga rakyat sehingga kasus-kasus seperti Nirmala Bonat dan Manohara Pinot tidak lagi terulang di masa depan. Bangsa ini adalah bangsa yang besar, maka yakinlah. Wawlahua’lam Biashawab

Komentar

rachmat mengatakan…
out of the record bukan rahasia lagi pak, hehe :)

Postingan Populer