DISKUSI: Media Tetap Independen dari Kepentingan Politik

Kamis, 12 Februari 2009 (Source: Lampost)

DISKUSI: Media Tetap Independen dari Kepentingan Politik

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Media massa di Lampung hingga kini dinilai tetap independen terhadap kepentingan politik dalam Pemilu 2009. Hal itu dikatakan pengamat politik dan dosen Universitas Lampung (Unila) Arizka Warganegara pada diskusi politik yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unila di Pondok Kelapa, Rabu (11-2).

Meski tetap memosisikan diri independen terhadap kepentingan politik, pemberitaan media massa di Lampung porsinya baru 30 persen dari seluruh bahan pemberitaan setiap harinya. Independensi media massa baik cetak maupun elektronik itu, menurut Arizka, tidak terlepas dari status kepemilikian.

"Di Lampung, sampai saat ini media massa berada pada posisi berimbang atau independen. Hal itu tidak terlepas sisi kepemilikan, bisa dilihat dari dua hal. Pertama modal dan kedua kepentingan pemodal. Dilihat dari sisi modal, media massa itu terdiri dari media massa privat (swasta) dan media massa pemerintah," kata Arizka.

Media massa pemerintah, menurut Arizka, merupakan alat komunikasi politik dan propaganda program-program pemerintah. Sedangkan dilihat dari sisi pemodal, ada dua motivasi membiayai media massa di Lampung, yaitu politik dan ekonomi.

"Tipe pemodal politik, cenderung menggunakan media massa yang dimilikinya untuk mencapai tujuan kekuasaan atau tujuan politik. Sedangkan tipe pemodal ekonomi tujuannya adalah mencari keuntungan," kata Arizka.

Selain menghadirkan Arizka, dalam diskusi juga menghadirkan pembicara Pemimpin Redaksi Radar Lampung Suprapto dan Koordinator Liputan Daerah Lampung Televisi (LTV) Firman Seponada.

Sementara itu, Firman dalam paparannya mengatakan banyaknya media massa baik cetak maupun elektronik memberikan pilihan kepada masyarakat untuk memilih acara yang benar-benar independen. "TV dan koran punya kekhasan masing-masing dalam memberitakan pemilu. Masyarakat bisa memilih saluran mana yang dikehendaki. Enggak suka dengan acara ini, ganti saluran. Kalau enggak suka dengan yang itu, ya jangan ditonton," kata Firman.

Sementara itu, mantan Presiden BEM Unila Slamet Riyadi menilai dari pemberitaan media massa saat ini, porsi untuk pendidikan politik bagi masyarakat dirasakan masih kurang. "Saya melihat media massa belum menampilkan kajian-kajian khusus yang mampu membuat frame (kerangka) masyarakat untuk memilih pemimpin yang baik," kata Slamet. n KIS/K-3

Komentar

Postingan Populer