MEREKONSTRUKSI PARTAI GOLKAR

Arizka Warganegara
Dosen FISIP Universitas Lampung
E-mail : arizka@unila.ac.id
Hp: 081279290888

Musyawarah Nasional Partai Golkar kali ini di Pekan Baru telah berhasil menarik perhatian publik, itu kesan yang kita peroleh. Pada bagian lain menarik juga memperhatikan tingkah dan polah para kandidat ketua umum yang berkampanye massif di media nasional. Ada apa dengan Golkar hari ini? stagnan? Mungkin itu sebuah pertanyaan yang layak diajukan kepada para punggawa, pendukung dan simpatisan Golkar.

Lebih lanjut, mungkin ada baiknya sebagai orang luar Golkar mencoba memberikan sebuah diagnosis akademik yang tentunya sangat terbatas mengenai beberapa faktor penyebab stagnasi Golkar dalam 5 tahun terakhir. Dimulai dari kekalahan beruntun calon Gubernur, Walikota atau Bupati yang diusung oleh partai ini dalam beberapa event pemilihan kepala daerah, kemudian dalam Pileg 2009 partai ini hanya menempati urutan kedua dengan memeroleh 14,45 persen dibandingkan dengan Pileg 2004 yang memeroleh 21,58 persen, berkurang lebih dari 6 persen (sebanding dengan 20 kursi di parlemen). Kemudian juga hal tersebut diperparah dengan jatuhnya suara pasangan yang diusung Golkar dalam JK-Wiranto dalam Pilpres 2009 dengan hanya memeroleh suara 15.081.814 (12,41%) jauh dari prediksi semula.

Masalah Mendasar

Ada 4 (empat) hal mendasar yang berkontribusi terhadap kekalahan Partai ini dalam beberapa ajang Pilkada, event Pileg serta Pilpres. Pertama, kurang konsistennya Partai Golkar dalam memunculkan logika konvensi internal (penjaringan-red), model penjaringan based on survey tidak dijalankan dengan serius, terdapat kecenderungan persoalan popularitas dan elektabilitas calon dinapikkan begitu saja ketika dibenturkan dengan kekuatan modal dan intervensi kekuasaan internal. Gejala ini sebenarnya sudah mulai terlihat pada saat konvensi Capres Golkar tahun 2004, Almarhum Cak Nur merasa di ‘kadali’ dengan beberapa punggawa partai ini untuk turut serta secara ikhlas dalam konvensi namun pada akhirnya dikalahkan dengan persoalan ketiadaan modal, diistilahkan oleh Cak Nur sebagai Gizi Politik.

Pasca Golkar kepemimpinan Akbar Tandjung memang terdapat perubahan mendasar dalam pola rekrutmen kepemimpinan politik di tubuh Golkar, awalnya logika konvensi adalah sebuah terobosan mutakhir yang perlu untuk diteruskan akan tetapi ketika Golkar kepemimpinan Jusuf Kalla konvensi ditinggalkan dan digantikan dengan pola survei, walaupun kemudian terdapat kecurigaan apakah hasil survei yang dilakukan tersebut dipakai sebagai satu bahan penting dalam memutuskan calon yang diusung.

Dalam konteks pilkada, memang sikap bijak sebagai bagian dari kebijakan internal partai untuk mendahulukan kader menjadi kandidat pemimpin daerah dan ini adalah sesuatu hal yang patut kita diacungi jempol, akan tetapi ada kalanya jika si-kader tidak populer dan electable artinya dalam sisi popularitas dan elektabilitas tidak memungkinkan untuk dapat menang dalam arena pilkada. Ada benarnya Golkar di daerah-daerah mulai berani untuk membuka ruang bagi orang-orang non kader untuk dapat ikut serta dalam penjaringan internal, termasuk juga jika nantinya mencalonkan non kader karena dianggap lebih menjual secara politik dibandingkan dengan kader internal. Mulai realistis, terbuka dan beradaptasi dengan kondisi kekinian politik hari ini mungkin kalimat yang tepat itu dipakai oleh Golkar.

Kedua, hari ini Golkar kehilangan icon, ketiadaan tokoh kharismatik pasca pemilu 2004 menjadi penyebab lanjutan partai ini berada dalam posisi stagnan. Pemilu 2009 melahirkan model politik baru yaitu politik pencitraan, terutama setelah kemenangan besar Partai Demokrat melalui icon-nya SBY. Terdapat perubahan nyata dalam prilaku pemilih hari ini yang bergerak kembali ke model-model devout follower era orde lama, padahal semasa orde baru dengan topangan tokoh-tokoh karismatik dari kalangan militer dan tokoh sipil yang berasal dari berbagai kalangan, cendekiawan, pamong, tokoh masyarakat-agama dan lainnya telah menjadikan Golkar sebagai the ruling party selama lebih dari 4 dekade, ditambah lagi pola patron kekuasaan yang kemudian semakin mengukuhkan Golkar dalam setiap arena politik Indonesia orde baru.

Ketiga, Golkar perlu memunculkan tokoh muda untuk diikutsertakan dalam jajaran struktur kepengurusan, anak-anak muda Golkar yang berasal dari berbagai kalangan profesi seperti aktivis sosial, profesional dan pengusaha seperti Yudi Chrisnandi, Idrus Marham, Harry Warganegara, Ahmad Dolly Kurnia, Jefry Giovani, Kamrussamad, Ade Komaruddin dan yang lainnya perlu lebih berani dimunculkan Golkar di permukaan pentas politik tanah air, dan Golkar harus percaya diri untuk ini. Di saat tokoh-tokoh lama dan tua Golkar yang sudah sangat sulit sekali di ‘jual’ secara politik, ada baiknya Golkar hari ini mulai mengorbitkan kader-kader muda untuk menjadi tokoh-tokoh politik karismatik masa depan. Apalagi jika kita menghitung secara matematis dan dikalkulasi dari sisi umur maka spasial umur 30 sampai dengan 50 tahun adalah pemilih potensial yang luar biasa dan dapat ‘digarap’ oleh Golkar, dan untuk itu ada baiknya tokoh-tokoh muda yang berumur dibawah 50 tahun mulai dijual untuk meyakinkan pemilih muda potensial tersebut dimasa depan kembali menjatuhkan pilihannya pada Golkar.
Keempat, membenahi persoalan manajemen internal partai, sisi manajerial partai juga perlu dibenahi, Jusuf Kalla sebagai ketua umum terlalu asyik melakoni perannya sebagai Wakil Presiden sehingga urusan internal serta pembinaan partai terlupakan. Perbaikan manajerial internal partai serta pembinaan loyalitas kader ini yg menjadi masalah serius yang harus segera dibenahi oleh ketua umum terpilih nantinya sehingga ketidaksolidan mesin partai ketika Pilres 2009 tidak akan terjadi kembali pada pilpres berikutnya.

Ada baiknnya secara substansi Golkar tidak malu untuk belajar pada Partai Thai Rak Thai, walaupun Thaksin Sinawatra digulingkan dari kursi Perdana Menteri Thailand akibat skandal korupsi, kemudian partai ini dilarang untuk mengikuti pemilu tetapi pada sisi lain kecintaan rakyat Thailand terhadap dirinya dan Partai Thai Rak Thai tetaplah tinggi. Internalisasi nilai Thai Rak Thai berhasil Thaksin lakukan dengan baik sehingga partai ini dalam kondisi apapun tidak pernah kehilangan pengaruhnya. Bagaimana dengan Golkar?

Komentar

Postingan Populer