GLOBALISASI DAN PARPOL MODERN

Secara tradisional tugas utama partai politik berfungsi untuk melakukan komunikasi politik, proses kaderisasi politik, menempatkan pejabat publik (public officer), menyiapkan infrastruktur dan suprastruktur politik. Itu jika melihat kebiasaan partai politik selama ini, akan tetapi seiring dengan globalisasi dunia maka secara umum, fungsi elemen-elemen politik pun terus berubah mencoba beradaptasi dengan logika borderless atau dunia tanpa batas.

Bayangkan saja kita tidak pernah terbayang dahulu kala akan ada surat elektronik, sms, jaringan internet yang membuat sekali sesuatu menjadi lebih dekat

Secara sederhana jika partai politik itu bersandar saja pada persoalan terbatas di atas maka eksistensi parpol akan ditinggalkan “percaya atau tidak”, secara umum saja misalkan dalam konteks Indonesia keberadaan partai politik ditengarai tidak mendapat sambutan yang positif di masyarakat.

Protes masal masyarakat terhadap pembangunan gedung DPR-RI yang akan menelan biaya Rp 1,6 Triliun adalah contoh terbaru bagaimana sikap respect masyarakat terhadap partai politik begitu rendah, sehingga setiap kegiatan yang dilakukan para politisi tidak mendapat respon positif di masyarakat. Ada apa dengan parpol? Sekaligus ini adalah pertanyaan serius yang harus dijawab oleh para politisi.

Menjadi sangat serius seiring dengan logika politik di Indonesia yang menganut semangat politik pencitraan. Jika di tahap awal saja pencitraan itu negative maka implikasinya pun juga akan negative dan akibatnya segala hal yang dilakukan akan mendapat citra negative begitu-pun sebaliknya jika dari persepsi awal sudah menghasilkan hal positif maka proses selanjutnya juga akan positif dan lama kelamaan akan menghasilkan fanatisme politik. Hal itu yang terjadi manakala SBY mencalonkan diri menjadi Presiden pada Pemilu 2009 yang lalu.

Thus, posisi partai politik ini berada pada titik yang negative hari ini dalam bahasa Aa Gym mungkin ini perlu instrospeksi dan retrospeksi baik dalam sisi intitusi partai maupun dari sisi politisi-nya atau dalam bahasa yang lebih santun para pegiat politik tersebut. Menjadi penting dalam dimensi apapun kedua sisi tersebut menjadi hal yang sangat pokok pembenahan institusi dan pembenahan aktor.

GLOBALISASI DAN PARTAI POLITIK

Menarik mengaitkan globalisasi dengan partai politik, Globalisasi sebagai sebuah fenomena multi dimensi pada titik tertentu melahirkan berbagai perspektif. Pada satu sisi para ilmuwan menganggap bahwa globalisasi adalah sebuah paradigma ilmu (grand theory) dalam keilmuwan sosial saja, padahal jika kita melihat aspek yang lebih luas dari pada globalisasi maka implikasi yang ditimbulkan globalisasi juga mengerah pada pola perkembangan sains dan teknologi dunia.

Pada bagian lain mengaplikasikan dan mengadopsi konsep partai modern adalah sebuah keharusan di era globalisasi. Partai modern tidak hanya berpikir soal memenangkan kekuasaan saja harus ada pola manajerial kepartaian yang jelas, antara lain manajerial soal administrasi kepartaian, pola pengaderan internal, pola pengaderan kepemimpinan, sisi governance partai dan yang juga penting adalah bagaimana partai itu dapat bermanfaat bagi kalangan diluar politisi dan pengambil kebijakan.

Dari sisi governace misalkan, partai politik modern tidak hanya menjalankan kendali manajemen partai melalui logika POAC saja (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling) saja lebih dari itu, pola manajemen partai modern semestinya sudah mulai berfungsi juga sebagai tidak hanya sebagai policy producer tapi juga money producer dan tentu saja melalui jalan yang elegan bukan seperti selama ini partai berharap pada APBN, APBD dan iuran anggotanya. Misalkan bisnis merchandise partai mungkin sebagai bagian alternatif penggalangan dana kepartaian.

Pada bagian lain perkembangan ICT (Information Communication dan Technology) juga mesti direspon serius oleh partai-partai politik. Dengan logika ICT awareness maka partai akan dengan mudah mengakses pola komunikasi yang selama ini tertata rapih di era globalisasi dan bukan tidak mungkin pola seperti ini akan membuka ruang, yang selama ini hanya pada tataran kerjasama antara Government-Market dan Society maka pola kedepan partai dapat masuk sebagai entitas sendiri dalam pola G-S-M tersebut. Sehingga pola Government-Market-Society dan Political Party menjadi pola komunikasi yang tidak terpisahkan.

Di era Globalisasi juga seharusnya Partai mesti mempunyai warna sendiri dan sudah mulai meninggalkan pendekatan pragmatis seperti kebanyakan hari ini, sebagai entitas yang bebas seharusnya partai ini sudah mulai memikirkan menjadi bagian penting sebagai institusi yang peduli terhadap isu lingkungan hidup dan green economy. Mencoba membuka ruang untuk bekerjasama dengan partai-partai politik di luar negeri juga menjadi bagian yang harus coba dikembangkan di era Globalisasi, semoga.

Arizka Warganegara
(Dosen FISIP Universitas Lampung)

Komentar

Werner Ebner mengatakan…

Hello! Do you use Twitter? I'd like to follow you if that would be okay. I'm undoubtedly enjoying your blog and look forward to new updates. all of craigslist

Postingan Populer