Cari Blog Ini

06/11/12

TRAVELING PART II (MENGGALA)-TULANG BAWANG

TRAVELING PART II (MENGGALA)-TULANG BAWANG

Yang menarik dari rumah panggung yang bersejarah dan unik ini adalah nuansa rumah yang selintas mirip dengan rumah-rumah bangsawan jawa tempo dulu. Terbuat dari kayu tembesu yang panjang mencapai 20 meter persegi menambah eksotisme rumah panggung Keluarga Warganegara ini.  Di beranda depan yang luas kita akan disambut beberapa furniture khas awal abad ke 18 dan 19 seperti kursi yang tebuat dari kayu dan beberapa perabot rumah tangga seperti meja, dan yang lebih unik lagi adalah tempat untuk meletakkan topi dan tongkat mener-mener Belanda pada masa kolonial  terlihat dengan anggunnya, disamping itu ada sebuah kursi putar yang terbuat dari kayu menambah lengkap nuansa klasik tempo dulu. 

Menurut catatan tertulis yang terdapat di rumah bersejarah tersebut, terakhir kali rumah direnovasi oleh Pangeran Warganegara IV pada tahun 1879 setelah itu terdapat perbaikan namun tidak merubah bentuk dan keaslian bangunan. Masuk ke dalam rumah kita akan disambut dengan Pepadun Sutan Ngukup (Pangeran Warganegara IV) yang dibuat pada abad ke 19 serta beberapa benda lainnya seperti Talam Pemenganan bertarikh tahun 1650-1727 (Semacam Talam untuk makan) milik Krio Warganegara (Menak Kesuhur) yang merupakan leluhur dari Pangeran Warganegara IV (1852-1927).  



Pepadun Sutan Ngukup (Pangeran Warganegara IV) dan Talam Pemenganan Milik Krio Warganegara bertarikh tahun 1650-1727

Disebelah Pepadun tersebut terdapat sebuah kamar yang dahulunya ditempati oleh seorang dokter asal surabaya bernama dr. Kajat, beliau merupakan dokter pertama di Lampung yang pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Kesehatan pertama Keresidenan Lampung di era Residen Pertama Lampung Mr. A. Abbas jauh sebelum masyarakat Lampung berkenalan dengan sosok dokter asal Padang Panjang-Sumatera Barat, Abdul Muluk.  Setiap bulan di era tahun 1940-1950an dr.Kajat mengunjungi Menggala untuk memberikan pengobatan bagi masyarakat Tulang Bawang dan sekitarnya pada masa tersebut. Hubungan persaudaraan yang erat antara Kepala Mega (Anak dari Pangeran Warganegara IV) dengan dr. Kajat menjadikan masyarakat Tulang Bawang mendapat akses untuk memeroleh pengobatan kala itu.

Tidak hanya eksotisme rumah bersejarah itu saja yang membuat kami sangat kagum, ketika sang empunya rumah Pak Maulana menunjukkan beberapa pusaka Keluarga Warganegara berupa beberapa bilah keris seketika membuat hati kami senang, maklum sekali buat sebagian orang Lampung barang-barang pusaka hanya bisa dilihat dan dinikmati oleh keturunan-keturunannya saja tapi hari itu kami cukup beruntung, Pak Maulana mau mengeluarkan beberapa bilah keris pusaka keluarganya, memang tidak semua koleksi keluarga diperlihatkan oleh Pak Maulana tapi dari beberapa koleksi yang dikeluarkan sudah membuat hati kami riang. Hilang semua kepenatan yang kami rasakan hampir 3 (tiga) jam berkendara dari Bandarlampung menuju menggala.

Oleh sebab keris-keris tersebut bersejarah dan sedikit keramat saya pun bergegas untuk meminta izin dengan empunya rumah untuk bershalat sejenak (kalau dalam terminologi jawa “kulo nuwun”). Setelah itu Pak Maulana memperlihatkan 10 (sepuluh) buah keris jejak serta peninggalan leluhurnya. Mata kami terarah pada sebilah keris yang paling besar diantara yang lain yang menurut kami juga agak unik, keris itu bernama keris Traju Domas milik Menak Kemala Bumi (leluhur dari Pangeran Warganegara I).

Keris tersebut berusia hampir 500 (lima ratus) tahun bertarikh tahun 1587. Menak Kemala Bumi merupakan luluhur dari Pangeran Warganegara I, menurut silsilah keluarga ini Menak Kemala Bumi masih merupakan keturunan dari Prabu Siliwangi terakhir.     


  
sedang memperhatikan Keris PusakaTraju Domas milik Keluarga Warganegara Tahun 1587

Keunikan Keris Traju Domas disamping keris itu terlihat besar dari pada keris lainnya, keris ini juga terdapat 2 (dua) tanda patri emas di ujung keris dan di pangkal keris.


 Dua Patri Emas Keris Traju Domas Milik Menak Kemala Bumi (Bertarikh Tahun 1587 Masehi)


Beberapa koleksi keris pusaka Keluarga Warganegara

Konon menurut sejarahnya Keris Traju Domas adalah salah satu pusaka yang dipakai oleh Pangeran Warganegara I pada awal abad ke 18 untuk merebut Benteng Petrus Albertus. Sejarahnya Tahun 1668 penjajah Belanda mendirikan benteng pertama di Menggala dengan nama Petrus Albertus. Benteng tersebut tempat menyimpan hasil bumi terutama lada, dan dijaga oleh Opas yang  dipersenjatai dan diberi meriam.

Pada tahun 1752 Belanda mendirikan kembali benteng Petrus Albertus Muda di Tiyuh (kampung) Kibang. Pada tahun 1774 Pangeran Warganegara I, Pangeran Anggadijaya, Pangeran Saja laksana, Pangeran Wirajaya dan Natadiraja ( Mereka berlima adalah Punggawa Lima Tulang Bawang, seba (menghadap) ke Sultan Banten meminta bantuan pasukan keamanan yang akan di tempatkan di desa Kibang. Bait Sejarah ini  tertulis dalam sebuah Piagam yang tersimpan di Perpustakaan Nasional (tanda surat Pangeran Andikanegara, Mangku Bumi Sultan Banten) setahun kemudian tepatnya tahun 1775 Benteng Petrus Albertus Muda di Kampung Kibang dapat rebut oleh penduduk Kibang dan diratakan dengan tanah.

Kembali pada koleksi keris-keris kuno tersebut kami juga tertarik dengan sebilah keris kecil yang terbuat dari kuningan yang dahulunya menjadi salah satu keris kesayangan dari Demang Kepala Mega. Disamping ukurannya yang kecil dan terbuat dari kuningan yang membuat kami bertanya-tanya adalah terdapat tulisan arab dan cina di badan keris tersebut namun sayang Pak Maulana tidak bisa menjelaskan apa makna dibalik tulisan arab dan cina tersebut. Dalam kesehariannya yang banyak mengetahui soal keris ini adalah Ibu Darsani setiap malam tertentu terdapat ritual yang dilakukan beliau dan anak-anaknya terhadap keris-keris tersebut.


 
Keris Milik Demang Kepala Mega (Keturunan Pangeran Warganegara IV)

Setelah melihat-lihat beberapa keris pusaka millik Keluarga Warganegara kami bergegas tertarik menyusuri keadaan lain dari Rumah Panggung yang luas ini. Dibeberapa bagian kami melihat beberapa keramik-keramik tua peninggalan zaman kolonial keramik-keramik bercorak negeri Belanda dan bahkan terdapat keramik yang bercorak tiongkok peninggalan Dinasti Ming.

dan  memang mengurus rumah bersejarah seperti ini perlu pengabdian dan dana yang tidak kecil, akan tetapi menurut Pak Maulana hal itu mesti dilakukan sebagai bagian dari pengabdian kepada keluarga bahkan menurutnya beliau dan keluarga sangat senang saja ketika banyak orang mengunjungi rumah ini hanya untuk berfoto dan melihat-lihat, “kami sudah terbiasa menerima tamu untuk melihat-lihat dan baru-baru ini saja salah satu TV swasta nasional meliput keberadaan dan jejak rumah bersejarah ini” pungkas Pak Maulana.

Setelah puas melihat koleksi Rumah Milik keluarga Warganegara kami pun bergegas, maklum ada dua lagi tempat yang kami ingin kunjungi yaitu Masjid Agung Kibang yang didaulat sebagai masjid tertua di Lampung dan Tangga Raja yang konon merupakan tempat sandar dan tempat menaiki perahu bagi raja-raja tulangbawang.

Tidak jauh dari rumah keluarga Warganegara kami akhirnya tiba di Masjid Agung Kibang sebuah Masjid tertua di Lampung dan telah mengalami beberapa kali pemugaran. Sejarahnya pada hari minggu tanggal 1 Pahing bulan Sya’ban 1194 H (Awal Abad ke-18)  di Kibang, Menggala Pangeran Warganegara I, Pangeran Anggadijaya, Pangeran Saja laksana, Pangeran Wirajaya dan Natadiraja ( Mereka berlima adalah Punggawa Lima Tulang Bawang) di bantu oleh Pangeran Muterjagad, Pangeran Robbana dan Marga Liyu mendirikan Masjid pertama di desa Kibang Menggala.

Masjid tersebut berbentuk pangung bertiang terbuat dari papan dan kayu yang dikerjakan secara gotong royong oleh penduduk Kibang. Masjid sederhana ini di resmikan tepat pada tanggal 1 Syawal 1194 H tepatnya hari rabu dengan Marbut H. Ratu Bagus Mujahidin, sedangkan Imam pertama Syekh Zulaipah dan beberapa orang ustad seperti Tuan Alim, Tubagus M.Ali.

Tahun 1825 asisten Resident Du Bois memerintahkan agar kota Menggala dibangun tak luput Masjid Kibang harus dipindahkan ke Kibang Libou dan pada tahun 1829 dibangun Masjid Kibang dengan panitia sebagai berikut :

Buay Bulan                 : Naga Berisang dari Lingai, Limah Tunggal dari Lebuh Dalem, Pangeran Akuan Batin dari Kampung Kibang    
Buay Tegamoan          : H. Umar                             Kampung Menggala
Suay Umpu                 : H. Yusuf                             Kampung Ujung Gunung
                                    Raja Pagar Ulama               Kampung Ujung Gunung
                                    H. Ali                                    Kampung Ujung Gunung



Masjid Agung Kibang diresmikan tahun 1830 dengan Marbut pertama H. M. Thahir Banten. Menara Masjid Agung Kibang dibangun tahun 1913 M (1332 H) dan di Pugar tahun 1938 (1357 H) dengan ketua panitia Pangeran Warganegara V (cucu dari Pangeran Warganegara IV/Sutan Ngukup), Sekretaris M. Umar, Keuangan H. M. Said. Setelah itu atau lebih tepatnya pasca kemerdekaan sudah beberapa kali masjid ini mengalami renovasi.

Tempat terakhir kami dalam perjalanan ini adalah mengunjungi Tangga Raja, menurut hikayat masyarakat setempat Tangga Raja adalah sebuah tangga atau jalan setapak yang dahulu kala dipakai oleh para raja raja tulang bawang untuk turun ke perahu dan berlayar, posisi tangga raja memang tepat berada di hilir sungai tulang bawang.













Tidak ada komentar: