‘Colekan’ Anthony Giddens Terhadap Karl Marx


Di era revolusi Industri, Karl Marx menjadi pemikir ulung, ide besar beliau mengenai Marxisme kelak mendapat apresiasi dunia intelektual yang luar biasa. Karl Marx telah mengubah pandangan terhadap ketidak-adilan dan kemiskinan menjadi lebih dapat di ‘soroti’ secara akademik. Karl Marx juga yang kemudian menginspirasi banyak gerakan buruh di dunia, seolah tersadar dari mimpi dan buaian panjang kapitalisme yang seolah tidak pernah tidur.
Pada era kekinian, tokoh intelektual yang menurut saya juga sangat berpengaruh terhadap dunia sejenis mungkin bisa saja kita sematkan pada karakter baru sosok Anthony Giddens. Tokoh yang satu ini memang tidak ‘memakan’ mentah-mentah ide Karl Marx dalam Bahasa yang lebih santun, Giddens secara kultural adalah Marxist, akan tetapi pada sisi lain beliau juga termasuk generasi anyar kelompok revisionist terhadap ide Karl Marx.
Giddens menolak teori materialisme sejarah Karl Marx karena menurut Giddens konsep ini mengambil hukum sejarah sebagai sesuatu yang natural. Menurut Giddens, Marx sendiri mengakui, bahwa sisi alamiah sejarah bergantung pada kesempatan yang ada, akan tetapi pada sisi yang lain, ide ini tidak mempunyai arahan untuk hal tersebut. Giddens juga menolak pandangan dan penjelasan Marx soal sejarah.
Dalam bukunya Beyond Left and Rights, Giddens mencoba memperluas idea-ideanya pada hal yang lebih realistis dalam terutama untuk melakukan kajian fenomena sosial dan politik. Tujuan utama gagasan politik Giddens adalah mengatasi persoalan utama masyarakat modern, yang terbagi pada empat hal besar yaitu mengatasi kemiskinan dan jurang antara kaya dan miskin: mencoba melakukan perlindungan terhadap lingkungan dari kehancuran, kekuasaan yang berasas pada kesempatan yang ‘equal’ pada semua elemen serta menghapus pressure dan kekerasan dalam kehidupan sosial.
Pandangan seperti di atas secara umumnya sangat bertentangan terhadap pemikiran materialisme sejarah yang Marx tawarkan. Dalam konteks materialisme sejarah, Marx amat menekankan kondisi material merupakan sumber dari kesadaran dan tingkah laku manusia. Kondisi material yang dimaksud oleh Karl Marx dalam sebuah komunitas yang mempunyai hubungan pada sistem produksi dan distribusi sumber daya alam. Menurut Marx, hal inilah yang sangat menentukan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya manusia.
Giddens lebih menfokuskan kajiannya kepada realitas politik terutamanya dampak sosial politik terhadap manusia. Jika analisis Marx menggunakan instrumen sistem produksi dan sumber daya alam semata, Giddens melakukan analisis perkembangan manusia dengan merujuk pada kondisi realitas yang terjadi atau lebih tepatnya kondisi psikologis manusia.
Aspek material dalam teori Karl Marx menjadi begitu penting, Karl Marx mendasarkan teorinya pada falsafah materialisme. Dua idea utama yang Marx ambil dari Hegel adalah mengenai terjadinya penentangan antara segi-segi yang belawanan dan gagasan bahwa segala sesuatu berkembang terus. Pada bagian lain, Marx juga menjelaskan bahwa manusia hidup dalam sebuah komunitas sehingga manusia tetap tergantung pada kondisi sosial yang sedia ada.
Pada bagian lain Karl Marx mencoba memadukan sesuatu yang empirik dengan sesuatu yang deduktif dalam sebuah rumusan sejarah. Hal ini juga amat ditentang oleh Giddens, dalam pandangan Giddens sesuatu timbul karena adanya sebuah relitas yang harus dihadapi. Sebagai contoh Giddens memberikan gambaran bahwa globalisasi adalah sesuatu yang tidak dapat dibendung, yang seringkali Giddens sebut dengan istilah kondisi Juggernaut. Juggernaut diibaratkan sebuah truk yang melaju kencang tanpa bisa dikendalikan. Merujuk pada itu ketika realitas mengharuskan setiap bangsa berhadapan dengan fenomena globalisasi, Giddens melakukan analisa fenomena itu dengan logika induktif sehingga melahirkan sebuah konsep bahwa globalisasi harus direspon secara struktural.
Secara umum beberapa pandangan Giddens yang berbeda dengan Marx adalah Pertama, menempatkan refleksi sosial sebagai pusat analisis, akan tetapi hal itu tidak pula memfokuskan kajian pada isu yang sifatnya hanya material. Giddens juga melakukan analisis bahwa refleksi sosial harus didasarkan untuk merespon perubahan yang terjadi di dunia informasi dan teknologi, meningkatkan pengetahuan merupakan sesuatu yang penting dalam naturalism kapitalisme modern. Hal ini tidaklah bebas akan tetapi secara tidak langsung sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.
Kedua, Giddens tidak mengabaikan fakta bahwa kapitalisme menciptakan tendensi ekonomi yang tidak bisa menerima faktor psikologis kapitalisme. Hal inilah juga yang membuat kapitalisme sangat menguntungkan pada dunia yang tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup manusia. Hal inilah yang sebenarnya tidak dianalisis oleh Karl Marx dalam teori materialisme sejarah. Marx hanya melakukan analisis pada konteks base structuredan supra structure saja. Malahan Marx hanya berbicara dalam perspektif nilai sedangkan Giddens menuntut dirinya lebih kepada pratek dan realitas sebagai sebuah impak logis dari aksi.
Giddens juga menyoroti ketidakmampuan Marx dalam melakukan assessment terhadap bentuk kebajikan sosial yang seharusnya menjadi bagian penting dalam sosialisme saintifik. Walaupun Giddens sangat meyakini bahwa masyarakat tanpa kelas adalah hal yang mungkin akan tetapi, lebih lanjut Giddens manjelaskan bahwa masyarakat tanpa kelas akan dengan sendirinya terwujud ketika adanya perubahan yang terjadi pada masyarakat itu sendiri bukan melalui revolusi kaum proletar.
Dalam banyak diskusi, Giddens menyimpukan bahwa komunisme telah tiada dan perlunya memikirkan projek ‘Politik Jalan Ketiga’. Pada dasarnya kritik Giddens terhadap Marx, adalah kritik ‘menggantikan’ pendekatan materialisme sejarah pada psikologi sejarah. Hal ini bermakna, Giddens lebih melakukan interpretasi pada dampak sosial yang terjadi dibandingkan dengan Marx yang analisisnya lebih pada hal yang bersifat material sebagai sesuatu yang paling utama. Mungkin perbedaan era dan masa menjadikan keduanya memiliki cara pandang yang berbeda terhadap banyak dimensi sosial manusia.
Arizka Warganegara (Pegiat Lingkar Studi Cendekia, Inggris Raya)
Daftar Bacaan
Giddens, Anthony. 1999. The Third Way: The Renewal of Social Democracy dan The Third Way and Its Critics (alih bahasa). Jakarta. PT Gramedia
Giddens, Anthony. 1971. Capitalism and Modern Social Theory. An Analysis of the writings of Marx, Durkheim and Max Weber. Cambridge: Cambridge University Press.
Giddens, Anthony (1990). The Consequences of Modernity. Cambridge: Polity (publisher).
Giddens, Anthony (1999). Runaway World: How Globalization is reshaping Our Lives. London: Profile.
sumber: http://nuwobalak.com/colekan-anthony-giddens-terhadap-karl-marx/

Komentar

Postingan Populer