Klub Bola Legenda PS JAKA UTAMA LAMPUNG

PEKAN Olahraga Nasional (PON) XVII yang dihelat 5--17 Juli 2008 di Kalimantan Timur berakhir. Lampung bertengger di peringkat kedelapan dengan dulangan 18 emas, 12 perak, 20 perunggu. Tapi, target 26 emas dari KONI Lampung tidak terpenuhi.

Berkaca pada prestasi itu, publik Lampung boleh mengingat PON XIII pada 9--20 September 1995 di Jakarta. Sang Bumi Ruwa Jurai dengan gagah berada di posisi kelima. Terbesar di luar Pulau Jawa.

Adalah Marzuli Warganegara yang kala itu tidak henti-henti mengeluhkan kondisi dunia olahraga kita, Lampung maupun nasional. Keluhan terbesar Marzuli: Atlet gemar berpindah-pindah daerah belaan.

Itu terjadi karena rata-rata atlet memburu bayaran tinggi. Bila ada daerah berani membayar mahal, si atlet siap angkat kaki. Fanatisme daerah tidak ada lagi dalam kamus mereka. Mengapa atlet begitu gampang pindah ke lain hati? Mereka memburu fulus. Bonus juga bakal mengalir jika berhasil mendulang emas. Itulah yang terjadi pada atlet-atlet Lampung di PON XIII.

Alih-alih agar atlet lokal termotivasi berlatih, pengurus cabang olahraga malah lebih suka mengajak atlet luar yang sudah "jadi" untuk bergabung dengan tim. Marzuli tidak sepenuhnya menyalahkan, tapi ia khawatir betul jika model demikian itu terus dipertahankan. "Jika terus-terusan begini, mau ditempatkan di mana muka daerah Lampung di mata daerah-daerah lain?" kata Marzuli kepada Lampung Post, saat itu.

Instingnya mencium bahaya besar dibalik hobi beli-membeli atlet PON. Bukan malah meningkatkan kualitas dan kemampuan, justru atlet lokal makin tenggelam oleh nama besar atlet yang sudah "jadi". Lebih dari itu, bisa membunuh komitmen si atlet terhadap daerah asal, bahkan negaranya. Atlet terjebak bonus tinggi, tapi melupakan bakti membela Tanah Air.

Orang banyak barangkali lebih mengenal Marzuli sebagai pemilik klub sepak bola Jaka Utama. Tapi, sangat jarang mereka tahu bagaimana ia berjungkir-balik untuk membesarkan klub elite Galatama (Liga Sepak Bola Utama) Indonesia itu.

Menggeluti dunia sepakbola bagi Marzuli tidak sepenuhnya berjalan mulus. Meski demikian, keyakinannya tetap kuat. "Daerah kita punya potensi besar untuk berbicara dalam persepakbolaan nasional. Tapi sayang, potensi besar itu tidak ditopang kompetisi rutin sebagai sarana pembentukan kualitas dan kemampuan pemain," kata dia.

Era 1990-an, saat Lampung dipimpin Poedjono Pranyoto, provinsi ini mengibarkan bendera sepak bola di papan tengah Liga Utama Indonesia selama lima musim kompetisi. Bakat pesepak bola tim berjuluk Gajah Lampung saat itu diperkirakan Marzuli terpusat di dua tempat: Lampung Selatan (tepatnya Gedongtataan) dan Lampung Tengah.

Lampung mencapai masa keemasan sepak bola pada PON X 1981. Marzuli selaku pembina mengantarkan Tim Gajah Lampung meraih emas. Saat itu, Lampung dianggap underdog oleh tim-tim unggulan dari Jawa dan Sumut. Di timnya, Marzuli mengandalkan Sudaryanto pada posisi kunci. Ia memang kepincut berat sama Sudaryanto. Sejak usia 10 tahun, Sudaryanto bergabung dengan klub anak gawang (sepak bola junior), sebelum pindah ke Tim Union Makes Strength (UMS) Jakarta. Di UMS inilah Marzuli melihat kiprah Sudaryanto dan kemudian memboyongnya ke Jaka Utama.

Pria yang semasa kecil sering berkelahi ini juga berkontribusi di PON XI. Kali ini di luar sepak bola. Anak asuhnya di cabang catur, karate, renang, dan selam mendulang 17 medali (emas, perak, perunggu). Catur 2 emas, karate 1 emas, renang 2 emas, dan selam 2 emas.

Lebih dari itu, Pembina/Penggerak Olahraga Terbaik Nasional 1978--1979 ini tetap merasa kesulitan mengembangkan sepak bola Lampung. Faktornya, karena sistem kompetisi yang teratur belum berjalan maksimal. Marzuli kepada Lampung Post pernah melontarkan harapan, tatkala Komite Daerah (Komda) PSSI Lampung dipimpin Sekwilda Lampung Fauzi Saleh. "Beliau kan punya power dan pengaruh sehingga bisa memerintahkan pengurus di tingkat perserikatan se-Lampung menggelar kompetisi antarklub di wilayah masing-masing secara rutin," kata dia.

Marzuli juga berharap banyak pada peran Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Lampung. Betapa tidak, instansi ini punya kemampuan dan pengaruh untuk menggelar liga antarklub sepak bola pelajar secara rutin. Enam bulan sekali saja, asalkan rutin, akan berkontribusi besar dalam menjaring bibit-bibit pesepak bola berbakat.

Keributan antarpelajar menjadi alasan utama sehingga usul Marzuli dipatahkan. Padahal, keributan antarpelajar cuma hambatan kecil yang bisa diatasi. Bila perlu, Komda PSSI Lampung dan Kanwil Depdikbud bisa bekerja sama dengan ABRI. Toh pembentukan disiplin juga melalui "campur tangan" ABRI.

Harus Tegar

Marzuli punya filosofi sendiri dalam membina olahraga. Seorang pembina sejati seperti bola karet: Elastis! Bola karet akan kembali bundar seperti sediakala meski dibanting berkali-kali sampai penyok-penyok. Terjemahannya, pembina olahraga harus tetap tegar dalam situasi dan kondisi buruk sekalipun. "Dia harus kembali lagi seperti semula dalam tempo singkat, dan siap membina lebih baik lagi," kata Marzuli.

Pembina olahraga juga seperti seniman. Sebab, olahraga punya unsur seni keindahan. Bagaimana mungkin orang mau menonton pertandingan olahraga kalau tidak ada daya tariknya. Daya tarik olahraga inilah yang ia sebut seni. Jika pembina tidak memiliki jiwa seni yang tinggi, jangan harap dia mampu membina dengan baik.
Pandangan Marzuli, membina prestasi atlet mirip dengan proses belajar-mengajar di sekolah. Jika guru yang mengajar punya kemampuan, murid pasti lebih mudah menyerap materi pelajaran. Olahraga pun demikian, akan sulit melahirkan atlet berprestasi jika pembina dan pelatihnya tidak berkualitas."

Barangkali jarang orang tahu bahwa Marzuli yang memberi ide kepada KONI Pusat agar membuat aturan tentang penghargaan bagi atlet yang memecahkan rekor nasional. "Memecahkan rekor nasional suatu prestasi tersendiri sehingga patut pula diberi penghargaan khusus secara nasional," serunya waktu itu.

Dua Jalur Pembinaan

Jalur pertama untuk olahraga yang sudah populer di masyarakat, seperti sepak bola, tinju, bola voli, karate, taekwondo, pencak silat atau atletik. Pembinaan dilakukan melalui kompetisi klub-klub dan ranting secara berkala. Dengan berkompetisi secara rutin, penjaringan bibit-bibit berbakat akan terserap secara maksimal.
Kedua, diperuntukkan olahraga yang belum dikenal masyarakat luas, seperti anggar, senam, angkat besi dan berat, binaraga, dan panahan. Ini bisa dimulai lewat sekolah-sekolah. Pembinaan di sekolah juga berdampak pada meningkatnya kualitas pengetahuan guru-guru olahraga.

Dari tingkat sekolah ini, Marzuli yakin bisa mendapatkan gambaran mengenai potensi terpendam anak-anak pelajar. Misalnya, di kelas 2A lebih dominan untuk anggar, sedangkan 2B untuk voli dan basket. Jika sudah ketahuan, tinggal memaksimalkan sistem pembinaannya.

Potensi besar sesungguhnya dilihat Marzuli ada di sekolah-sekolah. Namun, karena kemampuan guru-guru terbatas, potensi itu sulit muncul ke pemukaan. Apa yang telah dilakukan Yayasan Pendidikan Swadhipa Natar, Lampung Selatan, pada olahraga panahan adalah contoh konkret. Atlet-atlet yang ada di Pengda Perpani (Pengurus Daerah Persatuan Panahan Indoensia) Lampung pada umumnya siswa-siswi lulusan Yayasan Swadhipa, Natar. Yayasan bahkan memberikan beasiswa kepada murid yang menorehkan prestasi olahraga.

Tinggal Kenangan

Klub sepak bola Jaka Utama kini tinggal kenangan. Klub profesional kebanggaan Lampung itu terpaksa dibubarkan karena dicederai kasus suap mengatur skor pertandingan. Marzuli sangat kecewa karena klub yang dibesarkannya tenggelam begitu saja. Pencinta sepak bola di Lampung juga merasa kehilangan.

Kekecewaan Marzuli makin berlipat ganda karena pelakunya justru warga Lampung sendiri. "Di persidangan, Bapak kalah, padahal yang melakukan bukan dia," ujar Ambar Wulan, istri Marzuli.

Pembubaran Jaka Utama memang ironis. Padahal, saat itu materi para pemainnya sedang berada di puncak kemampuan. "Penyuap itu namanya Ahong. Dia suap pemain-pemain untuk mengatur skor. Waktu sidang, Bapak tidak ada yang membantu," kenang Ambar lagi.

Selain sepak bola, Marzuli meninggalkan kenangan indah di cabang tinju. Gelaran pertarungan adu jotos itu memperebutkan Sarung Tinju Emas (STE). Pencetusnya seorang wartawan olahraga Sumohadi Marsis, dan kawan-kawan pada 1975. Nah, Piala Sarung Tinju Emas itu sumbangan dari Marzuli.

Ironisnya, event setahun sekali yang banyak melahirkan jago-jago tinju nasional, seperti Syamsul Anwar Harahap, Welhellem Gomies, dan Frans V.B. itu tidak pernah lagi memperebutkan Piala STE setelah dinyatakan hilang. n


BIODATA

Nama: Ir. H. Marzuli Warganegara
Lahir: Tanjungkarang, 4 Maret 1939
Agama: Islam
Alamat: Jalan Pagar Alam, No. 229, Segala Mider, Bandar Lampung
Orang tua: H. Abdul Azis Syukri (Ayah)
Hj. Robiah (Ibu)
Saudara:
1. Zulkifli
2. Balkini
3. Urus Batin
4. Nursila
5. Meiyuni
6. Marjoeni
7. Desmi
8. Agus Nani
Anak ke: Delapan
Istri: dr. Ambar Wulan
Anak:
1. Drg. Eriska Riyanti, Sp.G.A.
2. Ir. Tanza Dwi Jaka Utama, M.Sc.
3. Marko Tridarma, S.E.
4. Poppy Suryanti
5. Dandy Suryanto

Pendidikan:
- Sekolah Rakyat (SR) Tanjungkarang
- SMP Taman Dewasa Telukbetung
- SMA Negeri Tanjungkarang
- Institut Teknik Bandung (ITB)

Karier:
- Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Lampung Utara
- Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Lampung Selatan
- Presiden Direktur PT Jaka Utama
- Pemilik Klub Sepakbola Jaka Utama, Galatama
- Ketua Komite Daerah (Komda) PSSI Lampung

Hobi: Membina dunia olahraga, mulai dari sepak bola, catur, karate, dan renang. Bermain tenis lapangan dan tenis meja.


Sumber:
http://paratokohlampung.blogspot.co.uk/2008/11/marzuli-warganegara-1939-pembina.html

Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 145-149.

Komentar

Postingan Populer