Sri Mulyani dan Pilpres


Oleh:
Arizka Warganegara

Sri Mulyani, sosok satu ini cukup dekat di telinga publik. Wanita kelahiran Tanjung Karang (Bandar Lampung) 54 tahun lalu ini ini kerap kali menduduki posisi penting dalam dinamika kepolitikan tanah air, sempat menjadi Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Ekonomi dan saat ini mejabat sebagai Menteri Keuangan. Boleh dikata, Sri Mulyani saat ini kemampuannya sangat diandalkan untuk menjadi sosok yang menjadi kas republik ini untuk tetap bertahan fluid.

Dalam keadaan resesi dan situasi global yang tidak menentu, mulai dari Inggris keluar dari Zona Ekonomi Eropa atau Brexit, konflik di Timur Tengah, volatile politik Amerika Serikat sampai dengam persoalan domestik kerap kali menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintahan Jokowi-JK.

Memenej anggaran negara tentulah bukan persoalan mudah, pemahaman teoritik saja tidak cukup, tentu harapan itu ada pada sosok Sri Mulyani yang lama berkecimpung mengelola state budget dan moneter.

Tidak  berlebihan jika saya memprediksi laju politik Sri Mulyani tidak hanya berhenti pada level ini saja, keberhasilan Sri Mulyani dalam mengawal keuangan negara lepas dari krisis akan menjadi penilaain tersendiri publik untuk Sri Mulyani menatap Pilpres 2019. Dan peluang itu ada jika menilik keberhasilan dan dukungan politik dari pemilih yang terlihat semakin hari menjadi ‘penggemar’ bagi sosok ini.

Ada beberapa atribut politik yang relevan dianalisis dan dapat menjadi kapital politik Sri Mulyani untuk dapat ikut serta dalam kontes Pilpres 2019.

Pertama, atribut perempuan dan politik. abad milenium diwarnai dengan semakin banyaknya politisi perempuan menduduki posisi strategis dalam kepolitikan negara sebagai contoh Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Inggris Raya Theresa. Sayang memang, laju Hillary Clinton terhambat walau kemenangan Trump secara electoral college mengindikasikan sebagian besar daerah pemilihan di Amerika Serikat sangat terlihat menginginkan Donald Trump menjadi presiden. Tentunya saya tidak ingin masuk dalam perdebatan gender mainstreaming dan apakah perempuan lebih baik menjadi pemimpin politik atau sebaliknya? yang sangat terlihat dan fakta kekinian atau tren politik masa depan adalah mengarah pada semakin menguatnya political leadership perempuan di tatanan politik global. Dalam konteks ini, atribut Sri Mulyani sudahlah sangat tepat meneruskan pendulum kecenderungan kepemimpinan perempuan di berbagai tempat tersebut.

Kedua, atribut etnis. Sebagai sosok Jawa yang lahir dan remaja di Lampung. Sosok Sri Mulyani sangat diuntungkan dengan klausul politik Jawa-Sumatera dan dalam konteks pemilih presiden klausul Jawa-Sumatera adalah kunci karena mayoritas pemilih berada dalam kedua pulau tersebut. Buat publik Sumatera khususnya Lampung, Sri Mulyani menggambarkan sosok lengkap Perempuan Jawa kelahiran Sumatera yang sukses. Sedikit polesan terhadap atribut ini akan menjadikan sosok Sri Mulyani berpotensi memenangkan hati pemilih di kedua pulau tersebut.

Ketiga, atribut global. Banyak asumsi kedekatan Sri Mulyani dengan Washington sangat terasa manakala Sri Mulyani terpilih menjadi salah satu direktur World Bank. Wajar saja orang berasumsi demikian, tapi bagi saya ini adalah sebuah cermin bahwa memang sosok ini mempunyai atribut global yang melekat, secara lebih gambling sosok Sri Mulyani punya jangkauan dan modal untuk bergaul dengan para pemimpin dunia kelak.

Keempat, atribut intelektual dan kepemimpinan. Secara intelektual sosok Sri Mulyani tentu tidak diragukan, kapasitas kepemimpinan pun relatif sudah teruji walaupun setakat ini masih dalam konteks kepemimpinan sektoral (keuangan dan moneter).


Titik Lemah

Sebagai profesional, satu-satunya kelemahan Sri Mulyani secara politik untuk ikut berkontes pada Pilpres 2019 adalah ketiadaan dukungan riil partai politik. Konsekuensi Undang-Undang Pilpres misalkan mengindikasikan, masing-masing partai politik hasil pemilu 2014 yang lolos pada pemilu 2019 mempunyai hak politik mengusung calon Presiden dan Wapres. Dan akibat klausul politik ini tentu kita akan melihat dinamika akan sangat tinggi pada pilpres 2019 kelak.

Pada titik inilah Sri Mulyani sampai saat ini belum terlihat dukungan partai politik terhadap dirinya, dukungan masing parsial dan tidak sistematis, pada poin lain klausul politik Calon Presiden Perseorangan nampaknya saat ini hanyalah ilusi politik yang tidak kunjung dating dan legalised.

Satu yang mungkin dilakukan oleh Sri Mulyani adalah melakukan konsolidasi internal dan mencoba ‘manangkap’ para ‘fans’ yang kini menunggu Sri Mulyani memberikan ‘aba-aba’ politik. Tentunya hal ini berdasar pada asumsi politik yang selalu dinamis dan memerlukan pergerakan yang taktis, tidak hanya untuk sosok Sri Mulyani tapi bagi para pendukung di level akar rumput.


Pada akhirnya, sebagai analis, saya masih mencoba meraba kemanakah biduk Sri Mulyani dalam pilpres 2019 ini akan dimulai dan melangkah. Akan tetapi satu yang pasti, bagi posisi calon Wakil Presiden sosok ini akan menjadi primadona kelak, bisa saja hampir semua koalisi partai berpotensi membuat skenario untuk memasangkan sosok ini menjadi Cawapres mereka. Pada akhirnya semua akan sangat tergantung pada sosok Sri Mulyani sendiri! 

Komentar

Postingan Populer